Yang Tak Nampak Di Jakarta



Idul Fitri 1435 H menjadi pengalaman mudik lebaran pertama bagi saya. Memang seperti yang banyak orang katakan perlu persiapan jauh-jauh hari sebelumnya, terutama urusan tiket kereta api. Sejak bulan April 2014 saya sudah berburu tiket kereta secara online di tengah malam, untungnya jaringan intenet di rumah di Boyolali sudah semakin baik.

H-2 perjalanan mudik pake kereta api dimulai pukul 22.40 WIB, terlambat satu jam dari jadwal seharusnya, biasalah padatnya jalur lalu lintas tak hanya dialami oleh pemudik via jalan raya saja. Kereta api pun juga tak kalah sibuk jalurnya dengan beberapa kereta tambahan yang disediakan oleh PT KAI. 

Yang tak nampak di Jakarta,
Suasana gelap di malam menjadi dominan disepanjang perjalanan. Sesekali melongok ke arah luar jendela sekedar untuk tau sudah sejauh mana kereta ini berjalan. Resiko perjalanan menggunakan kereta malam adalah seperti itu. Akan tetapi pemandangan alam cantik perpaduan rona jingga matahari terbit menumbuk hamparan padi hijau di kebumen menjadi momen yang paling menarik dari dalam gerbong yang saya tumpangi, sambutan pagi hari yang indah di alam raya ciptaanNya, yang tak nampak di Jakarta.

Yang tak nampak di Jakarta,
Sambil mendongak ke atas sesekali ketika subuh hari berjalan menuju masjid tak lagi perlu dilakukan di Jakarta. Kenapa, karena tak ada yang menarik di langit Jakarta. Tak hanya udara yang terpapar polusi, langitpun juga demikian. Pagi ini ketika di Boyolali, sekali mendongak ke atas, tak perlu menunggu lama dua buah bintang jatuh dan lintang alihan (bintang yang bergerak pindah dengan pelan) menjadi momen yang cantik di background hitam ciptaanNya, yang tak nampak di Jakarta.

Tak nampak bukan berarti tak ada :)
Newer Posts Older Posts Home

 

Followers

 

Templates by Drajat Dwi Hartono | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger