Kiat Sederhana Mengelola Keuangan Pribadi / Keluarga


Hari gini masih berharap bisa menabung banyak dari sisa pemasukan setelah dibelanjakan ? Yakin ?

Tak mudah memang mengatur keuangan tiap bulannya agar pengeluaran selalu lebih kecil dibandingkan pendapatan, syukur-syukur bisa disisihkan untuk amal dan investasi. Ada-ada saja kebutuhan yang mendesak maupun yang seharusnya bisa ditunda pemenuhannya terjadi setiap bulannya. Belum lagi gempuran berbagai produk konsumsi yang terkadang sebenarnya tidak kita butuhkan, diiklankan seolah-olah kita wajib memiliki atau mengkonsumsinya. Ditambah inflasi mata uang kertas yang menyebabkan nilai tukarnya melemah dari tahun ke tahun. Lalu bagaimana dengan persiapan pemenuhan kebutuhan finansial di masa yang akan datang apabila hal ini terus kita alami?

Nah berikut ini ada beberapa kiat yang dapat dijadikan pedoman untuk mengelola keuangan pribadi maupun keluarga.

Sebagai dasar, kita harus mampu disiplin serta tegas terhadap diri sendiri untuk membedakan mana hal atau barang yang benar-benar menjadi Kebutuhan (need) atau hanya sekedar Keinginan (want). Pakaian, makanan dan tempat tinggal merupakan kebutuhan mendasar dari setiap individu manusia. 

Akan tetapi, kebutuhan ini bisa meningkat statusnya menjadi Keinginan (want), misal, sewaktu jalan-jalan di pusat perbelanjaan kita membeli baju atau celana lagi karena sedang diskon, model terbaru, merk terkenal (branded). Padahal di rumah kita sudah memiliki 12 setel baju dan celana yang masih bagus dan layak pakai. Ataupun aksesoris lainnya yang sering kita tergoda untuk membeli, ujung-ujungnya hanya ditumpuk di almari dan tak jarang merasa menyesal setelah membeli barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan.

Setelah kita mampu mendisiplinkan diri hal maupun barang yang menjadi kebutuhan atau keinginan, selanjutnya pengalokasian pendapatan yang diperoleh tiap bulan dengan pola Piramida Keuangan. Selama ini mungkin kita masih menggunakan pola piramida terbalik untuk mengelola keuangan. Pendapatan/gaji yang diperoleh dibelanjakan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan, baru sisanya ditabung atau investasi (itupun kalo ada sisa :p).
Baik, seperti apa pola untuk mengelola keuangan, lihat ilustrasi alokasi dana pada Piramida Keuangan di bawah ini.
1. ZISWAF (Zakat, Infaq, Sedekah, Wakaf)
Hal pertama dan menjadi prioritas utama dalam alokasi dana adalah ZISWAF. Sebelum gaji atau pendapatan lain dibelanjakan, maka sisihkan terlebih dahulu untuk ZISWAF yang bersarnya minimal 2,5 % dari total pendapatan perbulan. Misal dalam artikel ini, perbulan pendapatan total Rp. 3.000.000,- maka minimal alokasi dana untuk ZISWAF adalah Rp. 75.000,-. Sebuah nominal yang kecil jika dibanding pendapatan yang diperoleh, akan tetapi menjadi perbandingan nominal besar jika ZISWAF dikeluarkan setelah pendapatan dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan.

2. Tabungan Darurat (Emergency Saving)
Prioritas pemenuhan kedua setelah ZISWAF adalah Tabungan Darurat. Tabungan ini digunakan untuk mengantisipasi kejadian yang mendadak dan darurat misalnya ada anggota keluarga yang sakit, kecelakaan atau bencana lain. Tabungan ini juga diperlukan ketika kita tidak memiliki asuransi jiwa. Besar tabungan ini idealnya 3x (tiga kali) total pendapatan perbulan. Sehingga nominal tabungan darurat adalah Rp. 9.000.000,-. Untuk mencapai nominal ini bisa dilakukan dengan cara menyisihkan uang perbulan, misal Rp. 125.000,-

3. Investasi dan Tabungan
Prioritas pemenuhan kebutuhan selanjutnya adalah investasi dan tabungan. Investasi di sektor nonriil bisa dilakukan dalam bentuk deposito, emas, maupun sukuk, sedangkan di sektor riil dapat dilakukan dengan pemberian modal kepada pedagang-pedagang kecil atau usaha skala menengah hingga besar yang dapat dipercaya. Tabungan sendiri dapat berupa tabungan reguler di bank syariah maupun tabungan dengan tujuan khusus misalnya tabungan pendidikan untuk anak atau tabungan haji dan umrah. Misal, alokasi dana untuk hal ini Rp. 250.000,- perbulan.

Nah, alokasi dana untuk investasi dan tabungan tidak terlepas dan sering terjadi tarik-menarik dengan gaya hidup kita. Handphone pengin punya 1,2,3 atau lebih? Makan murah sederhana asal bergizi atau makan di rumah makan yang harus merogoh kantong lebih dalam? Semakin orang berfikir untuk masa depan maka orang itu akan semakin hemat dan bisa merencanakan keuangan.

4. Belanja
Yak, setelah ketiga kebutuhan tersebut diatas telah terpenuhi, baru saatnya kita menggunakan sisa dana yang ada untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti makanan, pajak listik, air, beli pulsa, bahan bakar kendaraan dan lain-lain. Dari seluruh pengeluaran tersebut di atas masih ada dana Rp. 2.550.000,- yang dapat digunakan untuk alokasi belanja selama satu bulan. Masih kurang? atau kurang banget? hehe... Itu semua tergantung kebijaksanaan kita dalam mengelola rejeki yang diperoleh.

Mudah-mudahan dengan pendekatan tersebut di atas kita menjadi lebih bijak dalam mengelola keuangan. Kedisiplinan kita dalam mengelola keuangan menjadi kunci keberhasilan kita di masa depan. Prioritaskan pada urutan pertama apa yang menjadi kewajiban kepada Allah untuk membelanjakan sebagian rejeki yang diperoleh di jalan-Nya.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:
"Hamba itu berkata, "Hartaku, hartaku", tidaklah menjadi hartanya kecuali tiga: Yang ia makan kemudian habis, Yang ia kenakan kemudian usang, Yang ia sedekahkan, maka itulah yang dikumpulkannya. Adapun yang selain itu, maka akan sirna dan ia akan meninggalkannya untuk orang lain." (HR Muslim)

Semoga Bermanfaat :)

Sumber : Pemaparan Ust. Muhammad Syafii Antonio, Pakar Ekonomi Syariah,

Educator, Entrepreneur, Chairman of Tazkia Group Andalusia Islamic Center
http://www.syafiiantonio.com/
Gambar diskon : www.seputaraceh.com

0 comments:

Newer Post Older Post Home

 

Followers

 

Templates by Drajat Dwi Hartono | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger