Tiger Survey Team (Part II) Petualangan Baru Dimulai

Suara pilot sudah memenuhi kabin penumpang, mengabarkan bahwa beberapa saat lagi burung besi yang ia kendalikan akan mendarat di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II. Ya, hijau memang, sejauh mata memandang dengan sudut pandang "Google Earth" dari jendela pesawat, tapi sayang, warna itu bukan berasal dari hutan alam yang katanya masih luas di pulau Sumatera, akan tetapi tanaman Kelapa Sawit (nama ilmiah Elaeis guineensis) yang berjajar rapi seperti barisan tentara siap menguras habis unsur hara dan air di dalam tanah. Panas terik, begitu kami menginjakkan kaki di tanah Sumatera. Saat itu areal bandara masih dalam tahap pembangunan, terlihat truk-truk dan pekerja berlalu-lalang sibuk bekerja ditengah hari. Keluar dari pintu kedatangan bandara kami sudah ditungu oleh tiga mobil double kabin dan sebuah minibus. Dua mobil yang kami tumpangi singgah terlebih dahulu di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pekanbaru, Riau. 
Trus yang dua lainnya? mereka ngantri minyak di SPBU dekat bandara. Solar di daerah ini memang sering mangalami keterlambatan pasokan, eh mungkin cuma di pulau Jawa aja ya yang pasokan BBM-nya lancar, telat dikit aja masyarakat uda pada protes sedemikian rupa. Menjelang shalat Jumat sekitar pukul 11.30, diskusi dengan pihak BKSDA Riau dimulai. Ada yang aneh dengan hal ini. Rapat kok jam segini baru dimulai, bukannya sudah mendekati waktu shalat Jumat? Ternyata diskusi hanya berlangsung sekitar 30 menit dan bukannya segera menuju masjid akan tetapi masih dilanjut ngobrol dengan pegawai BKSDA yang notabene banyak yang merupakan jebolan "Padepokan Rimbawan Bulaksumur". "Mas kok podo ora Jumatan to iki?", tanyaku kepada salah seorang pegawai. Kenapa saya bertanya pakai bahasa Jawa, karena menurut beberapa dosen dan saya, orang yang pernah kuliah di Yogyakarta apalagi di UGM dipanggil dengan sebutan "Mas/Mbak" dan wajib paham bahasa Jawa meskipun tidak bisa bicara dengan bahasa Jawa hehe.. "Woo dasar wong Jogja, kalo sini Jumatan mulainya jam 12.30 karena selisih waktu shalat sekitar 30 menit", jawab dia. Baru sadar saya, pantesan kok masih pada sibuk beraktifitas ketika jam 12.00. 
Tunggu dulu, 2 mobil lainnya belum kelihatan sampe shalat Jumat selesai, ternyata mereka sudah jalan duluan karena tidak tahu lokasi kantor BKSDA Pekanbaru. Alhasil mereka menunggu di tepi jalan lintas Sumatera dan tidak shalat Jumat hehe. Gak usah dibayangkan disepanjang jalan lintas sumatera sebagus dan serindang kebanyakan jalan di pulau Jawa. Di sepanjang jalur lintas ini yang terpampang adalah ruko-ruko bertingkat berjajar tidak beraturan, jarang dijumpai pohon peneduh sebagai jalur hijau, kendaraan yang dijumpai didominasi oleh truk besar pengangkut barang maupun truk tangki pengangkut minyak kelapa sawit. Mobil pribadi kebanyakan berjenis minibus jarang sekali dijumpai jenis sedan maupun citycar yang berukuran kecil (dan unyu katanya).Perjalanan dari kota Pekanbaru membutuhkan waktu sekitar enam jam menuju Duri. Hingga menjelang magrib kami masih berada di kompleks perkantoran PT. Cevron Pasific Indonesia (CPI), mendiskusikan program kerja bersama PT. CPI, dan pihak BKSDA Riau dengan mendengarkan pemaparan dari tim ahli dari Fakulatas Kehutanan UGM. Singgah di salah satu hotel di Pekanbaru karena apabila dilanjutkan perjalanan ke Duri maka tiba terlalu larut.
Keesokan hari perjalanan menuju kota Duri. Lagi-lagi dengan sudut pandang horizontal, kami disuguhkan kembali hamparan tanaman Kelapa Sawit dengan tinggi beragam mulai dari satu meter hingga yang sudah mencapai 8 meter dengan tandan buah siap panen. Miris, melihat hamparan kebun Sawit seluas mata memandang yang dulunya berupa hutan alam. Tak bisa dibayangkan berapa jumlah hewan dan pohon yang direbut habitatnya untuk menanam kelapa sawit yang bersifat rakus karena akan menyedot habis unsur hara dan air di dalam tanah. Bahkan di dalam masa produktifnya masih harus disuplai pupuk kimia. Seluruh tanaman yang tumbuh disekitarnya dianggap sebagai gulma sehingga wajib disiangi atau disemprot dengan herbisida. Seluruh hewan yang hidup di dalam kebun sawit dianggap hama dan wajib dikeluarkan, tak terkecuali hewan yang di dalam UU No. 5 tahun 1990 tergolong sebagai satwa liar yang dilindungi. Selintas kemudian kami memasuki sebuah area yang dulunya adalah rawa dan kini juga telah diubah menjadi kebun kelapa sawit. Hanya membutuhkan waktu beberapa bulan saja air yang menggenang di suatu rawa menjadi kering ketika ditanami kelapa sawit.
Masih menjumpai kendaraan diesel berderet mengantri minyak di SPBU kota Duri. Sebuah kota kecamatan dengan potensi minyak mentah melimpah yang telah dieksploitasi sejak tahun 1970-an hingga sekarang. Didominasi oleh penduduk yang bermata pencaharian sebagai pekerja di perusahaan kontraktor PT. CPI. Kantor kecamatan berada di seberang pulau terpisah dari pulau sumatera. Kota dengan deretan ruko dan penginapan yang terkesan semrawut karena sepertinya tidak ada penataan ruang yang baik.
Beberapa hari awal kami disibukkan dengan perijinan dan pelatihan oleh pihak PT. CPI terkait dengan pengenalan lokasi, prosedur keamanan kerja (safety work), pemaparan program kerja, dan beberapa hal lain terkait kegiatan selama satu bulan di Duri Field. Selama beberapa minggu kami melakukan pengambilan data satwa berupa harimau dan satwa mangsanya serta burung, dan data vegetasi. Total luas kawasan PT. CPI yang akan kami sisir sesuai jalur (transek) penelitian sekitar 100 km2. Area tersebut dibagi menjadi grid-grid kecil dengan luas 1 km2.
APD yang musti dipakai di lapangan, kliatan ribet ya ?
Time to work!! Pertama kali ke lapangan kami sempat merasa ribet dengan segala Alat Pengaman Diri (APD). Helm, sarung tangan, sepatu boot (dengan berat 3 kg), beenet (pelindung lebah), kacamata, masker, topeng, detektor H2S, parang, serta senjata api bagi Polisi Hutan yang mendampingi masing-masing kelompok. Setiap hari masing-masing team akan menyusur kawasan sejauh 5 kilometer untuk pengamatan di Duri Field Area PT. CPI.

To be continued....

0 comments:

Newer Post Older Post Home

 

About Me

Investment and Wealth Protection

Chat Me

 Status YM

 

Followers

Investasi Pohon

Total Pageviews

Visitors

Translate This Page

Wisata Hati Business School

 

Templates by Drajat Dwi Hartono | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger