Hikmah dari Satu-satunya Sumber Cahaya


Suatu waktu di bulan Ramadhan 1434 H, daerah tempat tinggal saya mungkin bisa dibilang sekitar satu kelurahan mendadak mati lampu. Mungkin biasa ya kalo cuma mati lampu, tapi yg membuat agak ganjil, waktu terjadinya pada pukul 04.00 dini hari di saat waktu santap sahur keluarga Saya belum selesai. "Alhamdulillah, mati lampu jadi ga tau waktu imsak deh!!", celetuk adik saat itu. Seketika itu juga Saya pun menuju rak di belakang meja makan, tempat biasanya bapak meletakkan hapenya. Hape ketemu kemudian ibu bergegas menuju lemari tempat menyimpan lilin dan korek api. Secepat kilat membelah langit utara, seketika itu juga ruangan menjadi terang meskipun tak seterang lampu tetapi mampu memperlihatkan sisa makan sahur yang masih harus dihabiskan pada keempat piring yang ada.
Kita lupakan prosesi sahur yang kala itu memang sedikit nikmat karena Ibu memasak masakan kesukaan Saya,,hehe. Serangga yang terbang mengitari cahaya yang dipendarkan oleh lilin itu tiba-tiba menarik perhatian sepasang mata Saya. Mata Saya aja sih, pasangan mata yang lain masih tertuju pada santapan sahur. Kalo ada serangga yang peka terhadap cahaya atau bisa dibilang suka terhadap cahaya, apakah mungkin ada serangga yang tidak peka atau bahkan benci terhadap cahaya. Sejauh pengetahuan saya sih biasanya memang ada serangga yang suka dan tidak suka cahaya.
Di coretan ini Saya ingin menganalogikan sifat serangga tersebut dengan manusia. Dalam tulisan ini yang dimaksud cahaya adalah kebaikan dan kegelapan adalah keburukan. Ada sebagian manusia yang apabila melihat suatu perbuatan baik dilakukan maka mereka akan serta merta mendukungnya bahkan tak segan untuk ikut melakukannya. Ada pula yang apabila kebikan itu ditampakkan di kehidupan sehari-hai maka mereka seolah-olah menutup mata tak acuh bahkan menghalang-halangi kebaikan itu menyebar. Sebagai contoh secara universal adalah perilaku keseharian Rasulullah SAW yang dapat kita ketahui dari berbagai media saat ini. Misal yang paling sederhana adalah raut wajah yang terlihat selalu menyenangkan bagi siapa saja yang bertemu dengan beliau. Raut wajah yang teduh tersebut barang tentu ingin dimiliki oleh setiap orang yang menginginkannya (ingat ada juga sebagian orang yang tidak menginginkannya). Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW di dalam mengajarkan kebaikan agama Islam. Memang terkadang diperlukan perjuangan untuk memerangi kebatilan akan tetapi jauh lebih penting adalah "Kebatilan akan sirna dengan sendirinya ketika cahaya kebaikan ditampakkan di kehidupan ini." Laksana cahaya yang terpancar dari sebatang lilin yang mampu menerangi makanan yang hendak menuju ke mulut Kami saat itu.
Dan cerita ini saya akhiri pada momen lutut terbentur dipan kasur saat memasuki kamar hendak meraba-raba letak baju koko dan sarung di waktu subuh yang selalu mulia itu.
Semoga bermanfaat :)

0 comments:

Newer Post Older Post Home

 

About Me

Investment and Wealth Protection

Chat Me

 Status YM

 

Followers

Investasi Pohon

Total Pageviews

Visitors

Translate This Page

Wisata Hati Business School

 

Templates by Drajat Dwi Hartono | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger