Bidadari Kedua


Wanita disempurnakan dari tulang rusuk | bukan tulang kepala hingga tinggi, bukan tulang kaki hingga rendah, karena ia ialah teman

Wanita diciptakan tidak sama | dia kelemahan dari kelebihan lelaki dan kelebihan dari kelemahan lelaki, ia melengkapi

Karena wanita lekas linangan air matanya saat sedih, baik saat senang | karenanya suami diberikan dada yang lebih bidang

Lembut lemah wanita tercipta untuk berikan buaian keturunan | maka dia penolong yang menawan, bukan lawan tanding yang sepadan

Lemah lembutnya wanita bisa menguatkan suaminya | dan kekuatan suaminya adalah bila bisa berlaku lembut terhadap istrinya
 
Wanita memiliki rahim, begitulah mereka menciptakan kerabat | sekaligus mengajari lelaki bahwa mereka tiada ada tanpa wanita

Seorang wanita tidak perlukan lelaki yang pintar mengarang alasan | tapi wanita sangat menghargai lelaki yang berkata lewat perbuatan

Seorang istri tidak perlukan suami yang pandai membangun argumen | karena yang ia harapkan hanya pengertian dan rasa aman

 Tidak berarti bagi istri alasan logis, fakta akurat dan detail penjelasan | ungkapan sayang sepele, dan pelukan akan berikan lindungan

Bahkan seringkali seorang istri tidak perlukan lelaki yang pintar bicara | lebih berarti seorang lelaki yang pandai mendegar makna

Karena bahagia bagi wanita bukan masalah fisik lahir | tapi apa yang bisa dirasa dalam hati batin

Wanita lembut bukan untuk diinjak, melainkan untuk dilindungi | bagaikan hamparan hijau permadani dibawah kokoh rindang pohon berseri

Bila selama ini wanita menaatimu wahai suami | berikan sedikit waktu bagi mereka untuk lakukan apa yang mereka nikmati

Karena wanita dicintai tersebab kelemahannya | karena ia harus dilindungi dan dijaga

Hargailah wanita, karena hargamu tergantung daripadanya | karena lelaki selalu dilihat dari 3 wanita, istri-ibu-anak perempuannya

Tugas suami adalah mendidik istrinya agar paham | dan mendidik itu dengan pengertian, bukan suara keras dan ringan tangan

Bila istri belum memahami | maka hendaklah suami bertanya apa yang salah dari cara didiknya, bukan bertanya siapa yang dia didik

Seharusnya wanita menyambutmu dengan senyum laksana anak kecil saat hadirmu dirumah | tanda bahagia wanita nyata di muka

Bila istri tiada bahagia bersama kita? | mungkin perlu kembali kita kaji Islam, dan jalan hidup Nabi, agar pandai bahagiakannya :)

Felix siauw

Seandainya dia tau betapa aku mencintainya karena Allah :)

Sambutan yang Tidak Tepat

Bulan Ramadhan 1433 H telah berlalu beberapa waktu lalu. Bulan Syawal menggantikannya dengan disambut dengan sambutan yang meriah (sepertinya). Bulan Ramadhan tampaknya masih kalah meriah dalam hal smabutan yang diberikan oleh sebagian besar dari Kita. Tulisan “Marhaban Ya Ramadhan” lebih sedikit jumlahnya apabila dibandingkan dengan tulisan “Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin” baik disepanjang perjalanan mudik maupun di media massa (televisi, Koran, dll). Kepergian bulan Ramadhan pun juga kalah dengan sambutan kedatangan bulan Syawal. Melepas kepergian sesuatu yang berada ditangan lebih Kita tanggapi dengan biasa-biasa saja, padahal yang akan pergi adalah suatu bulan, suatu rentang waktu yang sangat sempit akan tetapi memiliki nilai yang luar biasa spesial.
    Dahulu, para sahabat Nabi Muhammad SAW menangis ketika berada di penghujung akhir bulan Ramadhan. Rasulullah SAW pun mengencangkan ikat pinggang untuk lebih getol beribadah diakhir Ramadhan. Saat ini memang tidak bisa dipungkiri bahwa hal-hal seperti itu dalam melepas kepergian Ramadhan semakin terkikis kalah dengan hiruk pikuk pulang kampung. Sebagian dari Kita rela berdesak-desakan antri di terminal, bandara, stasiun KA untuk memperoleh selembar dua lembar tiket, bahkan sekarang jauh-jauh hari sebelumnya sudah memesan tiket untuk mudik ke kampung halaman.
    Sungguh betapa indah apabila hiruk pikuk tersebut terjadi dalam menyambut bulan Ramadhan. Ya memang bukan dalam hal memesan tiket untuk pulang kampung ketika Ramadhan akan tetapi sambutan yang diberikan kepada bulan yang mulia inilah yang selama ini masih kurang greget. Layaknya Kita rela memesan tiket jauh-jauh hari sebelum mudik, Kita pun seharusnya jauh-jauh hari sebelum Ramadhan sudah melakukan persiapan dengan puasa sunnah Senin-Kamis, shalat tahajjud  shalat dhuha misalnya. Ritual persiapan penyambutan tersebut apabila telah Kita lakukan jauh-jauh hari sebelumnya, rasanya ringan sekali ketika melaksanakan ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan serta ibadah-ibadah lainnya seperti tahajjud sebelum sahur, dll.
     Saya sering melihat ketika bulan Ramadhan pada siang hari di masjid selepas shalat dzuhur orang-orang banyak yang tiduran didalam maupun di selasar masjid. Bukan berarti tidak boleh, akan tetapi hal ini sangat kontras apabila dibandingkan situasi di bulan-bulan lain. Ya memang ketika berpuasa, di siang hari terasa lemas dan ngantuk, akan tetapi apabila Kita sudah melakukan ritual-ritual persiapan jauh hari sebelum Ramadhan tiba, hal semacam itu tidak akan terjadi karena sudah terbiasa dengan kondisi berpuasa saat bekerja di bulan selain Ramadhan dan ketika berpuasa di bulan Ramadhan kondisi ngantuk dan lemas lebih dapat diminimalisasi dan bahkan tidak terjadi karena terbiasa dengan rutinitas kesibukan saat siang hari. Hal tersebut memang benar, karena saya sudah mempraktikannya sendiri dan Alhamdulillah bulan Ramadhan 1433 H ini jauh lebih bermakna dibandingkan sebelumnya.
     Tulisan ini menjadi instrospeksi sekaligus peringatan bagi diri saya sendiri untuk terus lebih baik dari hari ke hari. Semoga dipertemukan kembali dengan Ramadhan-ramadhan selanjutnya.
  Mohon maaf lahir dan batin
  Semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian :)

Quantum Changing


“Semua orang menginginkan perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik secara cepat, akan tetapi kebanyakan dari mereka menempuh jalan yang “biasa” (Ust. Yusuf Mansur)

     Hari ini Sabtu 4 Agustus 2012 Universitas Teknologi Yogyakarta memperingati Dies Natalis dengan mengadakan tabligh akbar bersama ustadz Yusuf Mansur. Prediksi jamaah yang hadir oleh panitia adalah 3000 orang akan tetapi Subhanallah jamaah yang hadir lebih dari 5000 orang. Alhamdulillah hikmah datang ke majelis ilmu lebih awal salah satunya saya masih kebagian takjil buka puasa hehehe...

     Materi tausiah yang disampaikan oleh Ust. Yusuf Mansur pada kesempatan itu adalah mengenai “Quantum Changing” yaitu dapat diterjemahkan kurang lebih “perubahan yang sangat cepat”. Perubahan apa? Perubahan kehidupan ke arah yang lebih baik tentunya. Kehidupan manusia memang tak lepas dari pasang surut, kadang naik kadang turun. Grafik kehidupan yang meningkat dari hari ke hari memang menjadi impian setiap orang. Kemarin masih menjadi seorang pelajar SMA, hari ini menjadi mahasiswa, esok setelah lulus berharap memperoleh/membuka lapangan pekerjaan yang memberikan jaminan materi untuk hidup, kemudian memiliki istri anak, teruuusss aja naik grafiknya. Nah, yang menjadi sorotan dalam hal ini adalah cara atau metode yang dipake selama perjalanan kehidupan.

     Metode “biasa” dan metode “quantum”. Saya sebut begitu dari tausiah yang disampaikan ustadz tadi. Perbedaan mendasar antara dua metode ini adalah ada tidaknya ketelibatan Allah di dalamnya. Nah kalo udah ngomongin keterlibatan Allah, saya suka bahasan ini. Berbicara tentang metode “biasa”, Allah pemilik segala sesuatu, penentu segala keputusan, pengatur segalanya yang ada di alam semesta, kok bisa-bisanya tidak dilibatkan dalam segala aspek kehidupan? Sunnatullah memang berlaku kepada semua manusia baik yang menggunakan metode “biasa” maupun “quantum”. Sunnatullah bahwa semua yang bekerja keras maka ia akan memperoleh apa yang telah ia perjuangkan berlaku bagi kita semua. Hal ini juga berlaku di metode “quantum”, akan tetapi ada keterlibatan Allah SWT di dalamnya, ini yang menjadikan luar biasa.

     Ada tiga langkah yang disampaikan oleh ustadz terkait dengan metode quantum :
1. Niatkan seluruh perubahan karena  Allah. Contoh, misalnya, saya sekarang masih berstatus mahasiswa yang sudah di ujung tanduk alias mau lulus (minta doanya semoga wisuda dibulan November 2012 ini :) tentu punya keinginan untuk diterima kerja di tempat yang terbaik. Selain itu saya juga minta ke Allah agar diberi gaji yang lebih, karena dalam permintaan ini saya niatkan sebagian gaji saya untuk sedekah ke anak-anak yatim. Intinya sisipkan nilai-nilai ibadah di dalam setiap keinginan kita
2. Jalani dengan cara Allah dengan beribadah dan doa. Ibadah shalat wajib terus kita perbaiki kualitasnya, disusul dengan ibadah-ibadah sunnah shalat rawatib, shalat dhuha, tahajjud, puasa sunnah, ddl kita geber semaksimal mungkin.
 3. Lakukan perubahan itu untuk Allah. Apabila langkah 1 dan 2 telah dijalani tapi tanpa langkah yang ketiga ini, jangan salahkan Allah ketikan Ia mengambil kembali apa yang telah kita dapat.

     Itulah intisari dari tausiah ustadz tadi pagi. Seperti biasa seusai tausiah ustadz kembali menawarkan kepada jamaah untuk bersedekan. Kali ini sedekah ditujukan untuk pembangunan masjid kampus UTY dan perluasan Masjid Nurul Asri Deresan yang merupakan pusat Rumah Tahfidz PPPA di Yogyakarta. Subhanallah sepanjang saya berada di majelis tadi nominal sedekah yang saya ketahui adalah ada seorang jamaah yang menyedekahkan mobilnya. Tidak tanggung-tanggung, mobil baru yang disedekahkan yaitu mobil tahun 2012, Subhanallah.
Semoga bermanfaat :)
Newer Posts Older Posts Home

 

Followers

Pakai Aplikasi Paytren

Investasi Pohon

Total Pageviews

Visitors

Translate This Page

Wisata Hati Business School

 

Templates by Drajat Dwi Hartono | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger