Sambutan yang Tidak Tepat

Bulan Ramadhan 1433 H telah berlalu beberapa waktu lalu. Bulan Syawal menggantikannya dengan disambut dengan sambutan yang meriah (sepertinya). Bulan Ramadhan tampaknya masih kalah meriah dalam hal smabutan yang diberikan oleh sebagian besar dari Kita. Tulisan “Marhaban Ya Ramadhan” lebih sedikit jumlahnya apabila dibandingkan dengan tulisan “Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin” baik disepanjang perjalanan mudik maupun di media massa (televisi, Koran, dll). Kepergian bulan Ramadhan pun juga kalah dengan sambutan kedatangan bulan Syawal. Melepas kepergian sesuatu yang berada ditangan lebih Kita tanggapi dengan biasa-biasa saja, padahal yang akan pergi adalah suatu bulan, suatu rentang waktu yang sangat sempit akan tetapi memiliki nilai yang luar biasa spesial.
    Dahulu, para sahabat Nabi Muhammad SAW menangis ketika berada di penghujung akhir bulan Ramadhan. Rasulullah SAW pun mengencangkan ikat pinggang untuk lebih getol beribadah diakhir Ramadhan. Saat ini memang tidak bisa dipungkiri bahwa hal-hal seperti itu dalam melepas kepergian Ramadhan semakin terkikis kalah dengan hiruk pikuk pulang kampung. Sebagian dari Kita rela berdesak-desakan antri di terminal, bandara, stasiun KA untuk memperoleh selembar dua lembar tiket, bahkan sekarang jauh-jauh hari sebelumnya sudah memesan tiket untuk mudik ke kampung halaman.
    Sungguh betapa indah apabila hiruk pikuk tersebut terjadi dalam menyambut bulan Ramadhan. Ya memang bukan dalam hal memesan tiket untuk pulang kampung ketika Ramadhan akan tetapi sambutan yang diberikan kepada bulan yang mulia inilah yang selama ini masih kurang greget. Layaknya Kita rela memesan tiket jauh-jauh hari sebelum mudik, Kita pun seharusnya jauh-jauh hari sebelum Ramadhan sudah melakukan persiapan dengan puasa sunnah Senin-Kamis, shalat tahajjud  shalat dhuha misalnya. Ritual persiapan penyambutan tersebut apabila telah Kita lakukan jauh-jauh hari sebelumnya, rasanya ringan sekali ketika melaksanakan ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan serta ibadah-ibadah lainnya seperti tahajjud sebelum sahur, dll.
     Saya sering melihat ketika bulan Ramadhan pada siang hari di masjid selepas shalat dzuhur orang-orang banyak yang tiduran didalam maupun di selasar masjid. Bukan berarti tidak boleh, akan tetapi hal ini sangat kontras apabila dibandingkan situasi di bulan-bulan lain. Ya memang ketika berpuasa, di siang hari terasa lemas dan ngantuk, akan tetapi apabila Kita sudah melakukan ritual-ritual persiapan jauh hari sebelum Ramadhan tiba, hal semacam itu tidak akan terjadi karena sudah terbiasa dengan kondisi berpuasa saat bekerja di bulan selain Ramadhan dan ketika berpuasa di bulan Ramadhan kondisi ngantuk dan lemas lebih dapat diminimalisasi dan bahkan tidak terjadi karena terbiasa dengan rutinitas kesibukan saat siang hari. Hal tersebut memang benar, karena saya sudah mempraktikannya sendiri dan Alhamdulillah bulan Ramadhan 1433 H ini jauh lebih bermakna dibandingkan sebelumnya.
     Tulisan ini menjadi instrospeksi sekaligus peringatan bagi diri saya sendiri untuk terus lebih baik dari hari ke hari. Semoga dipertemukan kembali dengan Ramadhan-ramadhan selanjutnya.
  Mohon maaf lahir dan batin
  Semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian :)

0 comments:

Newer Post Older Post Home

 

About Me

Investment and Wealth Protection

Chat Me

 Status YM

 

Followers

Investasi Pohon

Total Pageviews

Visitors

Translate This Page

Wisata Hati Business School

 

Templates by Drajat Dwi Hartono | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger