Hutan Konservasiku Malang …

Neokolonialisme telah lahir dan terus berkembang menyergap bumi selatan. Sumberdaya alam yang dimiliki bumi sebenarnya hanya dihabiskan oleh segelintir orang yang bergaya hidup sangat boros. Perkembangan jumlah penduduk yang terjadi sangat pesat di negara-negara sering dijadikan kambing hitam sebagai pihak yang menghabiskan sumberdaya alam dunia. Gaya hidup boros di Utara menjadi faktor penyebab utama.
Banyak negara-negara utara melindungi sumberdaya hutan alamnya, sementara kebutuhan akan kayu yang tetap menggiurkan akan dipenuhi dari bumi selatan, tak mengherankan apabila demand akan produk kayu di kawasan tingkat regional Asia Tenggara terus meningkat. Sebagai contoh China, misalnya, telah mengimpor kayu lebih banyak daripada plywood, lebih banyak impor pulp daripada kertas, untuk lebih banyak lapangan kerja dinegaranya. China juga sudah menghentikan prodiksi kayu dinegaranya, sehingga kebutuhan akan kayunya diperoleh dari Russia, Indonesia, Malaysia, dan Kanada.
Ketika stok kayu di hutan-hutan produksi mulai menipis, illegal logging mulai mengarah pada kawasan-kawasan konservasi, antara lain taman-taman nasional dan juga mengarah ke Indonesia bagian Timur: Papua, Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah merupakan contoh paling nyata keliaran illegal logging telah menghancurkan taman nasional di Indonesia.
Terlepas dari carut marut kondisi taman nasional di Indonesia, ternyata kita masih memiliki kawasan-kawasan konservasi termasuk hutan lindung yang lumayan luas. Kita masih memiliki  stok 28 juta hektar kawasan konservasi yang tersebar di 530 lokasi, yang menjadi masalah selanjutnya adalah mampukah kawasan-kawasan konservasi tersebut bertahan terhadap hantaman meningkatnya demand kayu global dan regional serta kebutuhan lahan akibat invasi perkebunan sawit dan dilanjutkan dengan tambang pada skala nasional ? Semoga saja pemerintah saat ini mau memperhatikan masalah tersebut, karena dampak kerusakan hutan terbukti juga dapat melewati batas-batas negara, seperti bencana banjir, tanah longsor, konflik satwa liar-manusia, kebakaran dan pembakaran lahan beserta kabut asapnya.
Hal ini belum terhitung dampak berantai yang timbul seperti menurunnya kesuburan tanah, penyakit, hama, bencana kekeringan dan sebagainya. Tampaknya, pemerintahan yang kuat dan legitimate, serta kebijakan politik nasional yang berpihak pada konservasi dan rehabilitasi sumberdaya hutan, dapat menjadi salah satu faktor penentu utama kemana masa depan hutan di Indonesia akan dibawa.

0 comments:

Newer Post Older Post Home

 

About Me

Investment and Wealth Protection

Chat Me

 Status YM

 

Followers

Investasi Pohon

Total Pageviews

Visitors

Translate This Page

Wisata Hati Business School

 

Templates by Drajat Dwi Hartono | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger