Nyanyian Rindu

Selamat pagi,,
Seperti biasa ku awali hari dengan secangkir teh manis
Pagi tampaknya mewakili pikiranku saat ini

dan nampak sepasang kepodang yang gelisah
mulai terusik berisik kepala penaku
yang masih saja mengalirkan torehan rinduku
tak lama mereka pun terbang melambung

Kepakkan lepas sayapmu
bawalah torehan hitam tintaku
sampaikan padanya irama penaku barusan
sampaikan padanya bahwa ia lah yang selalu ku rindukan

Selamat Hari Ibu :)

Virtual Reality sebagai Ilustrator Konsep Kepariwisataan Alam


          Kita sering mendengar istilah virtual reality atau simulasi yang digunakan pada suatu percobaan atau pengujian suatu sistem, misalnya tes untuk pilot yang menggunakan sebuah simulator yang didisain sedemikian rupa sesuai kondisi kokpit pesawat terbang yang di dalamnya terdapat sistem yang dapat digunakan untuk simulasi penerbangan yang sangat mirip bahkan sama dengan kenyataan. 

        Calon pilot diwajibkan untuk melewati uji tersebut sehingga memperoleh pengalaman melakukan penerbangan sebelum melakukan penerbangan sesungguhnya di lapangan. Konsep inilah yang saat ini mulai dikembangkan di Indonesia oleh beberapa peneliti dan pengembang dibidang kepariwisataan alam untuk menciptakan model-model pengembangan suatu kawasan objek daya tarik wisata (ODTW) di suatu kawasan secara 3 dimensi. Selama ini konsep pengembangan model kepariwisataan alam masih berupa gambar 2 dimensi berupa peta maupun secara 3 dimensi yang masih sekedar dalam bentuk maket. Di dalam model pengembangan (virtual reality) tersebut, dimasukkan unsur-unsur yang terdapat di lapangan baik hard material (objek buatan manusia) maupun soft material (objek natural) sehingga diperoleh gambaran yang jelas mengenai kondisi kawasan wisata yang akan dikembangkan.



         Didalam model ini, akan terjadi komunikasi antara desainer kawasan wisata dengan pengguna kawasan atau wisatawan yang akan memberikan penilaian terhadap model yang telah dibuat baik dari segi atraksi wisata yang ditawarkan maupun dari segi fasilitas yang disediakan oleh pengelola kawasan wisata. Desainer juga dapat membuat beberapa desain kawasan wisata yang nantinya juga akan dilakukan penilaian oleh pengguna mengenai desain-desain tersebut.


                Pembuatan model semacam ini memang lebih sulit apabila dibandingkan dengan sekedar membuat sketsa dalam peta, brosur wisata, maupun maket 3 dimensi. Proses pembuatannya menggunakan beberapa software yang memerlukan keahlian khusus untuk mengoperasikannya, misalnya AutoCAD, Google Sketchup, Adobe Photoshop, maupun Quest 3D. Software tersebut dapat diganti menggunakan software lain yang fungsinya serupa. Keunggulan model virtual reality yaitu mampu memberikan pengalaman yang lebih nyata kepada user atau wisatawan dan dapat digunakan sebagai gambaran yang sebenarnya terhadap kondisi kawasan wisata yang hendak dikunjungi.

Green Lifestyle 2

Artikel sebelumnya....
  1. Gunakan deodorant atau produk semprot lainnya yang non-aerosol,, Aerosol adalah penyumbang besar dalam pencemaran udara.
  2. Makan siang di tempat makan,, Jika rutin makan di luar lebih baik Kamu membeli kotak makan atau tempat minum yang kuat dan bisa dipakai berulang kali. Hindari Styrofoam yang berasal dari minyak bumi dan sulit diurai, lebih baik lagi apabila makan ditempat tidak perlu dibawa pulang.
  3. Gunakan kertas lebih sedikit,, maksimalkan penggunaan email. Cetaklah laporan presentasi hanya jika diperlukan.
  4. Matikan peralatan elektronik,, Pastikan semua dalam keadaan mati ketika meninggalkan ruangan, jika perlu cabut dari sumber listriknya.
  5. Gunakan e-banking,, Alihkan tagihan kartu kredit melalui email. Bank di Indonesia umumnya telah menyediakan fasilitas e-banking yang lengkap
  6. Bagi industri, mulai gunakan sumber energi yang dapat diperbaharui,, Gunakan peralatan yang hemat listrik dan hemat energi, serta buatlah peraturan penghematanenergi dan sumber daya. Pilih teknologi yang ramah lingkungan, dan lakukan penanganan yang baik untuk limbah industri. Edukasi karyawan untuk terbiasa bertanggungjawab dalam penghematan energi. Tingkatkan kesadaran mereka mengenai kecintaan lingkungan. Jadikan perlindungan dan keselamatan lingkungan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR). 
  7. Berliburlah di dalam negeri dan gunakanlah transportasi darat,, Berlibur sangat meningkatkan jejak karbon, terutama jika dilakukan dengan pesawat terbang yang merupakan penyumbang gas rumah kaca yang lebih besar dari pada mobil atau kedaraan darat lainnya.
  8. Kurangi perjalanan bisnis,, Teknologi sekarang sangat memungkinkan untuk melakukan komunikasi jarak jauh.Pengecualian dapat dilakukan untuk transaksi yang membutuhkan tandatangan atau kehadiran.
  9. Gunakan handuk hotel lebih dari satu hari,, Hal tersebut akan menghemat air dan deterjen yang dipakai.
  10. Gunakan mobil antar jemput untuk sekolah anak. Hal ini dapat mengurangi beban BBM, biaya sopir, dan cicilan kendaraan.
  11. Kecil itu indah dan hemat. Gunakan city car atau mobil dengan bahan bakar bio fuel, elektrik, hibrida, bahkan hydrogen sesuai dengan kemampuan. Tak perlu membeli SUV besar 4x4 jika tidak bekerja di pertambangan atau perkebunan.
  12. Ganti bahan bakar dengan bahan bakar yang dapat diperbaharui
  13. Cek tekanan angin ban dan jadwal servis kendaraan. Menurut survei ini akan menjaga mobil pada kondisi optimal akan menghemat 5% pengggunaan bahan bakar.
  14. Sewa mobil jika diperlukan. Jika mobil bukan sarana utama, maka menyewa adalah pilihan yang baik. Termasuk jika hanya memerlukan kendaraan besar untuk beberapa kesempatan saja.
  15. Matikan mesin saat menunggu atau terjadi kemacetan total. Panas saat menunggu dapat dikurangi dengan menggunakan kaca film yang baik.
  16. Berbagilah !! Carilah rekan kerja, tetangga atau teman yang area kerjanya sejalan dengan tujuan kerja / berpergian Kamu. Biaya perjalanan pun bisa dibagi.
  17. Belajarlah mengemudi dengan baik. Ganti perseneling lebih awal mengurangi konsumsi BBM hingga 15%. Jika mendekati kemacetan / lampu lalu lintas berhentilah dengan perlahan bukan dengan rem mendadak. Hindari mengemudi dengan kasar. Pindahkan gigi saat mencapai 2500-3000 rpm, lalu mengemudilah dibatasan 1500-3000 rpm.
  18. Go rechargeble, gunakan peralatan dengan baterai yang bisa diisi ulang. Jika harus menggunakan yang satu kali buang, gunakan Lithium-ion (Li-Ion) dan nickel metal hydride (NiMH).
  19. Utamakan hemat energi saat membeli peralatan elektronik. Misalnya pilih TV LCD daripada jenis tabung dan beli AC atau kulkas dengan konsumsi listrik terendah.
  20. Gunakan lebih lama. Jangan mudah berganti barang elektronik yang memilki fungsi sama. Jika terpaksa dilakukan, donasikan barang yang lama.
  21. Cleaner, greener, meaner. Meski masih lebih mahal, produk kebersihan yang ramah lingkungan sudah mulai hadir di supermarket. Belilah bila mampu atau campur cuka dengan air hangat (50:50) untuk pembersih serba guna. Untuk menghilangkan bau pada karpet gunakan baking soda.
  22. Pastikan rumah memiliki sirkulasi udara yang baik. Hal ini penting agar energi dan racun disekitar cepat menguap terutama saat membersihkan rumah.
  23. Untuk kesegaran ruangan, tempatkan tanaman hidup pada siang hari dan keluarkan saat malam hari. Pastikan tanaman tersebut dapat hidup didalam ruangan dan di dalam pot.
  24. Untuk penanganan barang beracun, segera hubungi dinas kebersihan atau lingkungan sekitar.
  25. Dan tidak kalah pentingnya,, sebarkan informasi ini kepada orang yang Kamu kenal karena hal kecil yang dilakukan secara bersama-sama akan menjadi dampak yang besar :D seperti kata Mario Teguh "Lakukan kemudian perhatikan perubahan yang terjadi !!! " . Copy link ini untuk di share :) atau klik icon facebook, twitter atau google buzz dibawah untuk share di akun Kamu :)
Semoga Bermanfaat :)

taken from : http://planetbumi.wordpress.com

Green Lifestyle


Pepatah bijak mengatakan "Tak kenal maka tak sayang" dan  "Sayangilah Bumi Kita karena hanya ada satu Bumi". Apa yang dapat Kita lakukan sebagai khalifah di muka bumi ini ?? 
Beberapa tindakan kecil yang semoga dapat menjadikan Kita lebih sadar untuk menyanyangi Bumi Soo... Cekidot guys !!! :D
  1.  Matikan lampu tidak terpakai dan jangan tinggalkan air menetes. Selain menghemat energi dan air bersih, tagihan listrik pun berkurang.
  2. Gunakan lampu hemat energi,, meskipun lebih mahal, rata-rata lampu ini lebih kuat 8 kali dan lebih hemat hingga 80% dari lampu pijar biasa.
  3. Maksimalkan pencahayaan dari alam,, Gunakan warna terang di tembok, gunakan genteng kaca di plafon dan maksimalkan pencahayaan melalui jendela.
  4. Hindari posisi standby pada alat elektronik,, Jika semua peralatan rumah tangga dimatikan, emisi CO2 akan berkurang secara signifikan. Gunakan colokan listrik dengan tombol on-off atau cabut kabel dari sumber listriknya.
  5. Jika pengisian ulang baterai sudah penuh, segera cabut,,Ini berlaku untuk telepon genggam, pencukur elektrik, sikat gigi elektrik, atau kamera, dll
  6. Kurangi waktu dalam membuka lemari es,, Setiap menit pintu lemari es dibuka, diperlukan waktu rata-rata 3 menit full energi untuk mengembalikan kulkas ke suhu awal.
  7. Jangan membeli bunga potong,,Jika daerah Anda bukan penghasil bunga hias, maka bisa dipastikan bunga itu dikirim dari tempat lain. Ini akan menghasilkan “jejak karbon” yang besar
  8. Gunakan gelas yang bisa dicuci,, dengan demikian kita akan mengurangi sampah gelas sekali pakai.
  9. Bawa tas yang bisa dipakai ulang,, Membawa tas belanja sendiri mengurangi jumlah tas plastik/kresek yang diperlukan.
  10. Berbelanjalah di lingkungan sekitar rumah,, Biaya transportasi dan BBM pun dapat ditekan.
  11. Tanam pohon setiap ada kesempatan,, Baik di lingkungan sekitar atau dengan berpartisipasi dalam program penanaman pohon.
  12. Pasang AC di suhu yang dirasa cukup. Hindari penggunaan suhu maksimal dan jangan biarkan ada celah yang terbuka jika sedang menggunakan AC hal itu akan membuat AC bekerja lebih keras.
  13. Gunakan timer untuk menghindari lupa mematikan AC
  14. Gunakan pemanas air tenaga surya,, meskipun lebih mahal, dalam jangka panjang ini akan menghemat tagihan listrik
  15. Makan dan masaklah dari bahan yang masih segar,, Menghindari makanan olahan atau kemasan akan menurunkan energi yang terbuang akibat proses dan transportasi yang berulang.
  16. Beli produk lokal,, Selain lebih murah juga sangat mengehmat energi. Jika diimpor dari daerah lain, emisi karbon yang dihasilkan akan lebih besar.
  17. Daur ulang aluminium, plastik, dan kertas,, usahakan untuk menggunakannya berulangkali.
  18. Membeli dalam kemasan besar,, Selain lebih murah, juga menghemat sumber daya untuk kemasan. Jika terlalu banyak, ajak teman atau saudara membeli bersama.
  19. Matikan oven beberapa menit sebelum waktunya,, jika tetap dibiarkan tertutup, panas oven tersebut tidak akan hilang.
  20. Hindari fast food,, Selain buruk bagi kesehatan, industri fast food merupakan penghasil sampah terbesar di dunia.
  21. Potong bahan makanan dalam ukuran yang lebih kecil,, Energi yang digunakan pun akan lebih hemat.
  22. Cuci baju dalam jumlah banyak dan gunakan air dingin,, Jika keluarga kecil, kumpulkan pakaian hingga kapasitas maksimal mesin cuci. Ini akan menghemat air, mengurangi pemakaian listrik, dan mengurangi pencemaran akibat deterjen.
  23. Gunakan deterjen dan pembersih ramah lingkungan,, Saat ini mungkin harganya memang lebih mahal, tapi apabila mampu lakukanlah demi masa depan Bumi dan anak cucu Kita.
  24. Gunakan ulang perabotan rumah,, Jika sudah bosan dengan perabotan lama, adakan garage sale berikan pada orang lain atau bawa ke pangrajin untuk dimodifikasi sesuai keinginan
  25. Donasikan mainan yang sudah tidak sesuai untuk umur anak Anda,, ini akan mengurangi produksi mainan-mainan yang terus menghabiskan sumber daya bumi kita. 

Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Kemelimpahan Herpetofauna di Petak 13, Wanagama I, Gunung Kidul, Yogyakarta

Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Kemelimpahan
Herpetofauna di Petak 13, Wanagama I, Gunung Kidul, Yogyakarta

Oleh :
Drajat Dwi Hartono

INTISARI
Herpetofauna merupakan hewan berdarah dingin yang artinya suhu dalam tubuhnya tergantung dengan suhu lingkungan disekitar untuk bertahan hidup sehingga keberadaannya sangat terpengaruh kondisi habitatnya. Studi ini dilakukan untuk mengetahui kondisi Petak 13 Wanagama I memiliki kondisi khas berupa batuan karst serta merupakan kawasan hutan rehabilitasi. Kondisi Petak 13 yang diteliti adalah penutupan tajuk, suhu, persentase batang rebah, persentase penutupan seresah.
Metode pengambilan data dengan menggunakan petak ukur line transek 250x20 meter sebanyak tiga buah dan dilakukan pengambilan data jumlah dan jenis herpetofauna, data lingkungan baik analisis vegetasi, serta kondisi lingkungan fisik di masing-masing line transek. Hubungan antara faktor lingkungan terhadap kemelimpahan herpetofauna dianalisis nilai signifikansinya secara statistik. Kemelimpahan indivudu dihitung dengan membandingkan jumlah individu yang dijumpai dengan luas petak ukur.
Berdasarkan hasil analisis statistik diperoleh bahwa keempat faktor yang diteliti yaitu  penutupan tajuk, suhu, persentase batang rebah, persentase penutupan seresah tadi tidak berpengaruh signifikan terhadap kemelimpahan herpetofauna di petak 13. Jenis herpetofauna yang dijumpai di petak 13 adalah Kadal Kebun (Eutropis multifasciata) sebanyak satu ekor dan Cicak Pohon (Sphenomorphus sanctus) sejumlah empat ekor.
Kata Kunci : Line transek, Habitat, Karst, Herpetofauna, Wanagama I.

Download .pdf

The World's Smallest Primate

Tarsius adalah primata dari genus Tarsius, suatu genus monotipe dari famili Tarsiidae, satu-satunya famili yang bertahan dari ordo Tarsiiformes. Grup ini dahulu kala memiliki penyebaran yang luas, semua spesies yang hidup sekarang ditemukan di pulau-pulau di Asia Tenggara.

Fosil tarsius dan primata ordo Tarsiiformes lain ditemukan di Asia, Eropa, dan Amerika Utara dan ada fosil yang diragukan yang berasal dari Afrika, namun Tarsius yang bertahan hingga sekarang terbatas di beberapa kepulauan di Asia Tenggara termasuk Filipina, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatra. Catatan fosilnya juga yang terpanjang kesinambungannya dibanding genus primata manapun, dan catatan fosil itu menandakan bahwa susunan gigi mereka tidak banyak berubah, kecuali ukurannya, dalam 45 juta tahun terakhir.

Diindikasikan bahwa Tarsius, yang semuanya dimasukkan pada genus Tarsius, sebenarnya harus diklasifikasikan pada dua (grup Sulawesi dan Filipina-Barat) atau tiga genera yang berbeda (grup Sulawesi, Filipina dan Barat). Taksonomi di tingkat spesies adalah rumit, dengan morfologi seringkali digunakan secara terbatas dibandingkan vokalisasi. Beberapa "ragam bentuk vokal" mungkin mewakili taksa yang belum dideskripsikan, yang secara taksonomis terpisah dari Tarsius tarsier (=spectrum) (seperti tarsius dari Minahasa dan kepulauan Togean), dan banyak tarsius lain dari Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya (Shekelle & Leksono 2004). Hal ini mungkin juga merupakan kasus sejumlah populasi Filipina yang terisolasi yang kurang diketahui seperti populasi Basilan, Leyte dan Dinagat dari grup T. Syrichta.

Anatomi dan Fisiologi
Tarsius bertubuh kecil dengan mata yang sangat besar; tiap bola matanya berdiameter sekitar 16 mm dan berukuran sebesar keseluruhan otaknya. Kaki belakangnya juga sangat panjang. Tulang tarsus di kakinya sangat panjang dan dari tulang tarsus inilah Tarsius mendapatkan nama. Panjang kepala dan tubuhnya 10 sampai 15 cm, namun kaki belakangnya hampir dua kali panjang ini, mereka juga punya ekor yang ramping sepanjang 20 hingga 25 cm. Jari-jari mereka juga memanjang, dengan jari ketiga kira-kira sama panjang debngan lengan atas. Di banyak ujung jarinya ada kuku namun pada jari kedua dan ketiga dari kaki belakang berupa cakar yang mereka pakai untuk merawat tubuh. Bulu Tarsius sangat lembut dan mirip beludru yang bisanya berwarna cokelat abu-abu, cokelat muda atau kuning-jingga muda. Tidak seperti prosimia lain, Tarsius tidak mempunyai sisir gigi, dan susunan  gigi mereka juga unik.

Penglihatan
Semua jenis Tarsius bersifat nokturnal, namun seperti organisme nokturnal lain beberapa individu mungkin lebih banyak atau sedikit beraktivitas selama siang hari. Tidak seperti kebanyakan binatang nokturnal lain, tarsius tidak memiliki daerah pemantul cahaya (tapetum lucidum) di matanya. Mereka juga memiliki fovea, suatu hal yang tidak biasa pada binatang nokturnal. Otak Tarsius berbeda dari primata lain dalam hal koneksi kedua mata dan lateral geniculate nucleus, yang merupakan daerah utama di talamus yang menerima informasi visual. Rangkaian lapisan seluler yang menerima informasi dari bagian mata ipsilateral (sisi kepala yang sama) and contralateral (sisi kepala yang berbeda) di lateral geniculate nucleus membedakan Tarsius dari Lemur, Kukang, dan Kerat yang semuanya sama dalam hal ini.

Tingkah Laku
Tarsius merupakan satwa insektivora, dan menangkap serangga dengan melompat pada serangga itu. Mereka juga diketahui memangsa vertebrata kecil seperti burung, ular, Kadal dan Kelelawar. Saat melompat dari satu pohon ke pohon lain, Tarsius bahkan dapat menangkap burung yang sedang bergerak. Kehamilan berlangsung enam bulan, kemudian Tarsius melahirkan seekor anak. Tarsius muda lahir berbulu dan dengan mata terbuka serta mampu memanjat dalam waktu sehari setelah kelahiran. Mereka mencapai masa dewasa setelah satu tahun. Tarsius dewasa hidup berpasangan dengan jangkauan tempat tinggal sekitar satu hektar.

Pelestarian
Satu jenis tarsius, Tarsius dian, T. dentatus; terdaftar segabai sinonim juniornya T. dianae oleh IUCN), terdaftar di IUCN Red List berstatus Bergantung Konservasi. Dua spesies/subspesies lain , Tarsius Barat (T. bancanus) dan subspesies nominasinya (T. bancanus bancanus , terdaftar dengan status Risiko Rendah. Tarsius Sulawesi (T. tarsier; terdaftar sebagai sinonim juniornya T. spectrum) dikategorikan sebagai Hampir Terancam. Jenis Tarsius lain terdaftar oleh IUCN sebagai Data Kurang. Adapun di Indonesia, semua jenis Tarsius yang hidup di Indonesia terdaftar sebagai satwa dilindungi. Tarsius tidak pernah sukses membentuk koloni pembiakan dalam kurungan, dan bila dikurung, Tarsius diketahui melukai dan bahkan membunuh dirinya karena stres. Satu situs mendapat keberhasilan mengembalikan populasi Tarisus di pulau Filipina Bohol. Philippine Tarsier Foundation telah mengembangkan kandang besar semi-liar yang memakai cahaya untuk menarik serangga nokturnal yang menjadi makanan tarsius.  Di tahun 2008 dideskripsikan Tarsius Siau yang dianggap berstatus kritis dan terdaftar dalam 25 primata paling terancam oleh Conservation International dan IUCN/SCC Primate Specialist Group tahun 2008.

Di ambil dari berbagai sumber

Social Forestry untuk siapa ?

          Sebuah program pengelolaan hutan yang diadopsi oleh Indonesia dari bangsa Eropa pada sekitar tahun 1970an. Sebelumnya telah diterapkan dua jenis sistem pengelolaan hutan Indonesia yaitu yang petama kali diterapkan adalah hutan sebagai sumberdaya yang dapat dieksploitasi untuk kemakmuran rakyat (Timber extraction). Pandangan ini pernah menjadi salah satu bentuk pengelolaan hutan di jaman penjajahan Belanda tepatnya sebelum tahun 1800.

             Pada masa ini hutan hanya dipandang sebagai mesin penghasil kayu untuk kemakmuran masyarakat. Sebenarnya tujuan dari bentuk pengelolaan ini mulia yaitu untuk kemakmuran masyarakat. Masyarakat yang tinggal disekitar hutan dengan kemampuan ekonomi bawah diharapkan akan ikut terangkat  nail kesejahteraannya dari hasil hutan yang diambil dari kawasan sekitar mereka. Di lapangan kenyataan yang terjadi berbeda, aplikasi dilapangan sangat bertolak belakang dengan tujuan semula. Hasil penjualan kayu-kayu (Jati) pada masa itu hanya berputar pada kaum penjajah dan bangsawan saja, sedangkan masyarakat yang menjadi blandong (sebutan untuk penebang kayu) hanya dibayar murah untuk kerja kerasnya. Luasan hutan yang rusak akibat penebangan semakin luas.
Sekitar awal tahun 1800 dikirimlah utusan dari Belanda yaitu Jenderal Deandles yang melahirkan pandangan baru mengenai pengelolaan hutan yaitu Timber Management. Sebuah pengelolaan hutan yang sudah memasukkan unsur permudaan hutan kembali sebagai upaya rehabilitasi hutan bekas tebangan. Deandles juga sebagai pencetus sistem jatah tebangan yaitu seluruh kawasan hutan di Jawa dibagi habis kedalam unit-unit pengelolaan agar mempermudah pengelolaan dan pengawasan hutan serta menjamin kelestarian hasil produksi kawasan hutan. Lagi-lagi dampak dari kebijakan tersebut kurang dinikmati oleh masyarakat sekitar hutan.

         Awal tahun 1970an, Indonesia mulai mengadopsi sistem Social Forestry (SF) dari Eropa. Sistem ini melibatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan pengambilan keputusan di dalam kebijakan yang akan diterapkan. Kemunculan SF ini dilatarbelakangi oleh kegagalan dua sistem pengelolaan hutan sebelumnya yang berimbas kepada tingkat deforestasi (kerusakan hutan) yang sangat tinggi serta kemiskinan masyarakat sekitar hutan sehingga pada sekitar tahun ini konflik sosial mulai muncul seiring bertambahnya jumlah penduduk. Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), Hutan Kemasyarakatan (HKM) merupakan contoh dari sistem SF tersebut. Di dalam sistem ini dibentuk kelompok-kelompok tani yang dipimpin oleh seorang ketua. Ketua bertugas untuk mengkoordinasi segala bentuk pengelolaan hutan yang mereka kelola. Memang program tersebut sangat membantu pemerintah didalam pengelolaan hutan karena dengan biaya yang tidak begitu tinggi pemerintah dapat menjamin hutannya dalam kondisi terawat.

           Pemerintah dan perusahaan pemerintah maupun swasta khawatir akan kondisi hutan yang ada karena tekanan masyarakat sangat tinggi terhadap akses pemanfaatan ke dalam hutan sehingga mereka khawatir seluruh sumberdaya hutan akan habis apabila tidak segera diambil tindakan, oleh karena itu SF saat ini dianggap sistem yang sesuai diterapkan di Indonesia terutama di pulau Jawa. Disisi lain, sistem SF masih menimbulkan beberapa masalah yang mungkin kurang disadari oleh pihak selain pemerintah tentunya bahwa kebijakan ini menjadikan masayarakat sebagai objek pelaksana kebijakan dari pusat (pemerintah) padahal seharusnya SF merupakan sistem yang dijalankan berdasarkan keterlibatan masyarakat pula, mau diapakan hutan disekitarnya menurut kebutuhan mereka. Memang masyarakat diperkenankan untuk mengolah lahan disela-sela tanaman pokok sebagai lahan tumpangsari, akan tetapi hal tersebut tidaklah berpengaruh secara signifikan terhadap perekonomian mereka. Aturan-aturan yang ada di SF seolah-olah hanya dibuat dan dipaksa diterapkan di masyarakat dengan larangan ini itu yang sangat membatasi masyarakat untuk mengakses hutan. Hal ini menunjukan sebenarnya pemerintah memang tidak ingin agar masyarakat sekitar hutan itu tidak berkembang dengan kata lain dibatasi aksesnya baik secara infrastruktur maupun perekonomian karena dikhawatirkan akan terjadi perubahan pola hidup yang diprediksikan berdampak kepada kawasan hutan yang ada.

        Sebenarnya menurut saya, masyarakat sekitar hutan tidak akan memanfaatkan hutan dengan berlebihan seperti kekhawatiran yang terjadi selama ini dengan catatan mereka juga diberi andil untuk memutuskan untuk apa kawasan hutan disekitar mereka akan dikelola selanjutnya.
Semoga kedepannya hutan di Indonesia menjadi lebih baik :)

Gak Usah Pake Plastik Ya…..

Plastik…plastik…plastik… benda ini selalu ada di setiap tempat, di mana Kita memalingkan pandangan di situ Kita sering menjumpai benda yang satu ini. Tampaknya hampir setiap benda yang Kita gunakan dulunya bukan berbahan dasar plastik, sekarang telah digeser oleh keberadaan benda berbahan dasar plastik.

Seperti yang Kita ketahui, plastik memerlukan waktu yang sangat lama untuk dapat terurai secara alami, meskipun Kita mengetahui hal tersebut tetapi Kita belum sadar bahwa setiap sampah benda yang terbuat dari plastik terus bertambah seiring dengan kebutuhan manusia akan benda praktis ini. Alhasil, sekarang baik di TPA maupun TPS rumah tangga didominasi oleh benda berbahan dasar plastik. Penanganan sampah plastik telah dilakukan oleh berbagai pihak mulai dari membakarnya begitu saja (tentu menambah emisi karbon di udara), mendaur ulang plastik menjadi plastik baru kembali (Recycle) hingga menjadikan sampah plastik untuk dibuat benda-benda unik, seperti tas misalnya, agar dapat digunakan kembali (Reuse). Apapun kreatifitas usaha masing-masing pihak untuk mengelola sampah plastik tentu harus memperoleh dukungan baik dari pemerintah maupun masyarakat untuk menghargai hasil kreatifitas mereka.

Usaha pengolahan sampah di atas kurang “menggigit” dampaknya untuk lingkungan apabila tidak didukung oleh masyarakat untuk mengurangi pemakaian plastik. Nah, berikut ini ada beberapa tindakan yang dapat Kita lakukan untuk mengurangi pemakaian plastik sehari-hari :

1. Berbelanja di supermarket menggunakan tas (ransel, jinjing) sendiri. Bagi Anda yang sering berbelanja entah itu di supermarket atau pasar tradisional, coba hitung berapa banyak plastik yang menumpuk di rumah setelah digunakan untuk membungkus belanjaan. Mulai sekarang Kita tak perlu meminta plastik dari penjual, Kita masukkan saja ke dalam tas yang telah dibawa dari rumah, katakan kepada penjual/kasir “Gak usah pakai plastik ya…” Apabila tindakan dan perkataan Anda ini didengar oleh orang lain yang berada di sekitar Anda maka mereka akan sedikit berfikir karena ini tindakan yang tidak lazim, dan Anda dapat menjadi pelopor menghemat plastik..hebat bukan :)

2. Menggunakan kembali plastik yang digunakan untuk berbelanja sebelumnya. Plastik yang mungkin menumpuk di dapur atau gudang dapat digunakan kembali ketika berbelanja di pasar atau supermarket.

3. Makan di tempat. Bagi Anda yang lebih memilih untuk membeli makanan di luar, mulailah memakan makanan Anda di tempat, tidak usah dibawa pulang karena akan memerlukan beberapa plastik untuk mengemas makanan Anda, selain itu makan di luar juga lebih baik untuk refreshing memperoleh suasana baru yang lebih asyik sambil ngobrol dengan teman atau keluarga dibandingkan di rumah atau kantor.

4. Memisahkan sampah menurut jenisnya. Anda dapat mulai memisahkan sampah yang dibuang seperti sampah organik (sayuran, makanan basi, dll), sampah plastik (botol plastik, plastik kemasan, dll), lain-lain (kaleng, kaca, dll). Ajaklah teman atau tetangga di sekitar Anda untuk tindakan ini. Tindakan ini bertujuan agar mempermudah pemilihan dan pengolahan sampah di TPA, selain itu sampah botol plastik atau kaca dan beberapa benda lain dapat dikumpulkan di suatu tempat disekitar tempat tinggal bersama-sama tetangga Anda untuk dijual kembali ke pengepul sampah, mengahasilkan uang kan…. dibandingkan hanya dibuang begitu saja.

5. Membuang sampah di tempatnya. Hal sepele memang, tapi sering kali Kita mengabaikan tindakan ini. Sediakan tempat sampah di sudut yang sekiranya mudah dilihat dan sekiranya membuat Anda tidak malas untuk mencapainya.

6. Share artikel ini atau beritahu orang lain. Tindakan tersebut di atas akan lebih terlihat hasilnya apabila semakin banyak orang yang tahu dan mau untuk melakukannya, meskipun saat ini Anda mungkin masih sendirian melakukannya tapi jangan khawatir suatu saat orang lain pun akan tertarik untuk melakukannya. So… keep fight to keep our environtment…

Ada tambahan mengenai hal ini, silakan….

Semoga bermanfaat …:)

Ayah, Burung Elang Itu Seperti Apa?

          “Wahai Anakku, dulu di sini terdapat burung Elang yang sangat indah. Ayah sering meluangkan waktu untuk sekedar melihat mereka Undulating (gerakan meluncur ke bawah) ataupun Swarring (melayang) beberapa kali”. “Burung Elang itu seperti apa, Yah?”, sahut si anak kemudian. “Nanti Ayah tunjukkan rekaman videonya di rumah”, jawab sang Ayah.

          Beberapa saat yang lalu Saya sempat mengunjungi Taman Nasional Gunung Merapi di Jawa Tengah yang terkenal akan keberadaan Elang Jawa yang saat ini hanya tersisa beberapa ekor saja. Saya bersama beberapa teman melakukan pengamatan satwa yang salah satunya adalah burung Elang di lokasi tersebut untuk mengetahui populasi Elang di sana. Seperti halnya jalan di daerah pegunungan lainnya yang bekelok-kelok dan menanjak tajam, jalan yang menuju lokasi tersebut harus kami lalui dengan agak berat, karena beberapa motor kami sempat tidak kuat menanjak bahkan ada dalah satu dari kami yang motornya mogok sehingga harus didorong untuk sampai lokasi terakhir yang dapat dilalui kendaraan. Rasa lelah terbayar dengan sambutan seekor Kera Ekor Panjang (Maccaca sp.) yang tiba-tiba melintas di tepi jurang sebelah kami tak jauh setelah kami berjalan ke atas. Suhu udara yang seharusnya panas karena saat itu cuaca sangat cerah, akan tetapi terasa sejuk karena hembusan angin cukup kencang dari arah jurang.

Elang Jawa (Spizaetus bartelsi)
        Setelah tiba di lokasi pengamatan, segera Kami mencari tempat yang PW (posisi wuenak…) untuk pengamatan Elang. Semua bekal bawaan dikeluarkan agar Kami memiliki sambilan yang bermanfaat yaitu ngemil hehe…. Setelah menunggu sekitar 15 menit, salah satu teman Kami melihat dua ekor Elang sedang swarring di seberang bukit. Sejurus kemudian, Kamipun langsung mengambil monokuler dan binokuler yang telah dipersiapkan sebelumnya. Teman yang lain segera mencatat koordinat lokasi dan waktu saat itu. Kedua Elang itu berbeda jenis yaitu Elang Hitam dan Elang Ular Bido. Sangat indah memang melihat burung Elang yang terbang bebas di alam. Selang tak berapa lama setelah kedua Elang itu menghilang di balik bukit, Kami dikejutkan dengan seekor Elang Ular Bido yang terbang tak jauh di depan kami, jaraknya hanya sekitar 50 meter sehingga tanpa bantuan alatpun Kami dapat melihat Elang tersebut dengan jelas. Ia terbang berputar-putar cukup lama di depan Kami. Beautiful !!!, itu yang dapat saya ungkapkan saat itu. Kelihaian membelah lereng bukit, rentangan sayapnya yang lebar dan bulunya yang indah Ia tunjukkan saat itu. Elang tersebut seolah-olah menunjukkan keperkasaan dan keindahan dirinya. Semua pandangan tak mau lepas dari atraksi menakjubkan dari Elang yang satu ini. Terlepas dari segala keindahan Elang tersebut, tersirat pula seolah-olah Ia juga mengatakan kepada Kami, “Kami hidup di sini, jaga dan lestaikan Kami, biarkan Kami hidup di tempat ini.”

           Setelah cukup lama mengamati, Kamipun memutuskan untuk mengakhiri kegiatan pengamatan pada hari itu karena dirasa sudah cukup. Sayang sekali, Kami tidak dapat menjumpai Elang Jawa hanya hidup secara liar di lokasi ini, akan tetapi melihat burung Elang secara langsung di alam sudah cukup mengobati rasa penasaran Kami terhadap alam ini.

         Saya berharap semoga percakapan antara ayah dan putranya di atas, tidak akan pernah terucap ketika kelak Saya menjadi seorang ayah.

Semoga bermanfaat :)

Susu Vs Bensin

Akhir-akhir ini, budaya bersepeda untuk bepergian sedang marak didengungkan oleh berbagai kalangan baik instansi pemerintah maupun swasta, Bike to Work lah istilahnya.

Nah, suatu saat saya ikut perbincangan dengan salah satu dosen, beliau berkata bahwa sebenarnya yang pergi ke tempat kerja dengan mengendarai sepeda itu mayoritas orang-orang berduit, karena :

1. Harga

Kebanyakan harga sepeda mereka hampir sama atau bahkan lebih mahal dibandingkan dengan cicilan awal sepeda motor. As we know, sekarang hanya dengan jaminan KTP saja Kita sudah dapat membawa pulang sepeda motor baru, nah loh… yang lebih mengherankan lagi banyak orang rela membeli sepeda dengan harga jauh lebih mahal daripada harga sepeda motor baru, hmm…

2. Masalah bahan bakar ne…

Sepeda motor tentu berbahan bakar Premium atau Pertamaxlah bagi yang berduit, tapi bagi pesepeda bahan bakarnya apa? Susu, daging ? ahaha… kemungkinan besar pasti jawabannya “iya” karena bagi mereka pastilah membutuhkan suplai bahan bakar yang lebih untuk tetap fit selama seharian bekerja.

Lalu apa masalahnya dengan bahan bakar tersebut? Lagi-lagi emisi gas rumah kaca muncul sebagai biang keladi global warming. Sepeda motor tentu akan mengeluarkan emisi gas tersebut dan memperparah efek rumah kaca di bumi, tapi apakah dengan bersepeda dijamin lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan pengendara motor? Belum tentu, dengan asumsi konsumsi daging dan susu setiap hari minimal 2 kali, sebenarnya mereka juga menyumbang emisi gas rumah kaca. Susu dan daging yang mereka konsumsi berasal dari peternakan yang jelas-jelas penyumbang terbesar salah satu gas rumah kaca yaitu Metana.

Proses pencernaan hewan pemamahbiak dibantu oleh bekteri yang menghasilkan gas metana. Semakin besar konsumsi daging maka semakin banyak pula peternakan yang ada untuk memenuhi permintaan susu dan daging. Bagi orang yang belum mampu membeli susu dan daging setiap hari mereka lebih memilih membeli motor karena dengan uang 4500 rupiah untuk setiap liter bensin, dapat digunakan paling tidak 1-2hari tergantung jarak tempuh ke tempat kerja, bagi mereka tentu lebih memilih membeli bensin (premium) karena harganya lebih murah dibandingkan dengan membeli daging dan susu setiap hari.

Menurut Saya, benar juga pendapat yang dilontarkan oleh dosen tersebut, seringkali Kita kurang memperhatikan efek berantai (sebab akibat) dari aktifitas yang sehari-hari dilakukan.

Berbicara masalah lingkungan memang banyak solusi yang ditawarkan agar aktifitas Kita sehari-hari lebih ramah lingkungan, akan tetapi kembali lagi kepada individu masing-masing yang masih belum menyadari akan peran manusia sebagai pisau bermata dua, perusak atau pemelihara alam. Budget masih menjadi faktor utama yang dipilih untuk melakukan berbagai solusi ramah lingkungan tersebut atau tidak. Tidak ada salahnya juga jika mereka tetap bermotor jika bepergian, tetapi saya lebih mendukung Bike to Work karena budaya cinta lingkungan perlu ditanamkan pada diri masing-masing terlepas mana yang akan mereka pilih, bersepeda atau mengendarai motor untuk bepergian.

Akhir baris, saya mengajak bagi pengguna kendaraan bermotor yang masih menggunakan Premium, Ayo ganti dengan Pertamax hehe… :D

Terima kasih

Semoga bermanfaat :)

Beberapa Negara Kepulauan Terancam Hilang dari Peta Dunia

Akhir-akhir ini isu pemanasan global (global warming) dan Perubahan Iklim (Climate Change) menjadi topik yang sedang hangat diperbicangkan. Ya memang kalau bicara masalah tersebut diatas memang tidak lepas dari akibat tingkah polah manusia yang semakin lama semakin serakah untuk mengeksploitasi kekayaan Sumber Daya Alam yang notabene diberikan gratis oleh Allah SWT. Tapi meskipun gratis, kita juga wajib memperhatikan kelestarian lingkungan yang ada karena kita sudah disediakan SDA yang melimpah oleh-Nya.

Namun, apa yang terjadi saat ini, kita dapat melihat dan merasakan sendiri banyak hal yang berubah di bumi yang kita tempati ini, seperti beberapa Negara kepulauan terancam hilang, kenaikan suhu bumi yang sangat tajam, perubahan iklim yang terjadi dibumi, dan lain sebagainya.
Diperkirakan 14 negara kecil terancam hilang akibat naiknya permukaan laut, antara lain beberapa negara pulau di Samudra Pasifik, yaitu Sychelles, Tuvalu, Kiribati, dan Palau, serta Maladewa di Samudra Hindia. Akibat pemanasan global, minimal 18 pulau di muka bumi ini telah tenggelam, antara lain tujuh pulau di Manus, sebuah provinsi di Papua Niugini. Kiribati, negara pulau yang berpenduduk 107.800 orang, sekitar 30 pulaunya saat ini sedang tenggelam, sedangkan tiga pulau karangnya telah tenggelam. Naiknya permukaan laut disebabkan semakin naiknya suhu udara di kutub yang berakibat mencairnya es yang dulu dibilang “Es Abadi” dikutub bumi.
Maladewa yang berpenduduk 369.000 jiwa, presidennya telah menyatakan akan merelokasikan seluruh negeri itu. Sementara itu, Vanuatu yang didiami 212.000 penduduk, sebagian telah diungsikan dan desa-desa di pesisir direlokasikan. Hal tersebut sangat mengerikan apabila benar-benar terjadi, dan tentu saja akan mengubah peta dunia saat ini. Menurut Badan Riset Kelautan dan Perikanan DKP, Indonesia sendiri berpotensi kehilangan 2.000-an pulau pada tahun 2030 bila tidak ada program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Hmm….. Kalau boleh nyeletuk sedikit, lebih baik pulau-pulau Indonesia lebih baik dijual dulu sebelum tenggelam…… he…he….
Semoga bermanfaat :)

Mengetahui Aplikasi Autorun Ketika Windows Start Melalui Registry

    Pada saat komputer pertama kali kita hidupkan, maka secara otomatis windows akan me-load aplikasi-aplikasi yang telah tersetting untuk berjalan secara otomatis (autorun) saat Windows start. Beberapa aplikasi yang otomatis berjalan begitu Windows start dapat dilihat di taskbar (pojok kanan bawah desktop), misalnya antivirus, dan beberapa software lainnya. Nah untuk me-load beberapa aplikasi tersebut tentu saja memerlukan waktu beberapa saat. Untuk aplikasi seperti antivirus atau aplikasi lainnya yang anda perlukan sih ga jadi masalah, yang jadi masalah ketika ada aplikasi yang sebetulnya tidak kita perlukan ikut-ikutan nyala ketika windows start. Untuk kita yang bisa bersabar untuk menunggunya tentu saja waktu delay tersebut tak menjadi masalah, tapi bagaimana jadinya jika suatu saat kita terburu waktu untuk mengambil data dari komputer misalnya, wah malah jadi makin repot ujung-ujungnya....
Nah pada posting ini saya akan memberitahukan kepada anda cara untuk mengetahui aplikasi apa saja yang secara otomatis berjalan ketika windows start melalui registry. Selain anda dapat mengetahui aplikasi apa saja yang autorun, anda juga dapat sekaligus menghapus/mendisable aplikasi autorun yang sekiranya tidak anda perlukan. Sebelum membuat suatu perubahan pada Registry, sebaiknya anda melakukan Backup Registry terlebih dahulu.
Pertama kita masuk ke Registry Editor, caranya :
>>Untuk Windows XP dan Windows versi sebelumnya : klik menu START > RUN > ketikkan REGEDIT > OK
>>Untuk Windows Vista : Klik menu START > ketikkan REGEDIT pada kolom START SEARCH > tekan Enter
Kemudian akan muncul jendela Registry Editor

Setelah muncul jendela Registry Editor, navigasikan ke key berikut ini :
My Computer\HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Run
maka akan muncul panel sebelah kanan yang berisi aplikasi-aplikasi yang autorun saat WIndows Start. Untuk mendisable aplikasi yang autorun, klik kanan pada aplikasi yang ingin di disable kemudian delete.


Key navigasi tersebut hanya akan menampilkan aplikasi yang autorun pada user yang sedang dijalankan (user tertentu). Untuk mengetahui aplikasi yang autorun pada semua user atau dengan kata lain autorun oleh komputer (bukan user tertentu) navigasikan key berikut ini :
My Computer\HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Run
maka akan muncul panel sebelah kanan yang berisi aplikasi-aplikasi yang autorun saat WIndows Start. Untuk mendisable aplikasi yang autorun, klik kanan pada aplikasi yang ingin di disable kemudian delete.


Setelah selesai, tutup jendela Registry Editor kemudian Restart komputer anda dan lihat hasilnya.
Semoga bermanfaat....:)

Backup Registry

Sebelum kita melakukan utak-atik pada Registry Windows, alangkah baiknya jika kita membuat backup Registry terlebih dahulu, untuk menghindari atau mencegah kerusakan sistem komputer kita. Seperti kata pepatah saya (he..he..) "Sedia Backup sebelum utak-atik". Karena akan bermanfaat sekali kalau-kalau kita melakukan kesalahan pada saat mengutak-atik Registry Windows.
Cara mem-backup Registry Windows adalah sebagai berikut :

Pada jendela Registry Editor kita pilih menu File > Export > kemudian pada tab Export Range pilih All kemudian pilih folder dimana tempat yang anda kehendaki untuk menyimpan backup registry.
Untuk merestore/mengembalikan setingan registry anda, misalnya kalau terjadi eror setelah anda mengutak-atik registry, pilih menu File > Import > kemudian cari folder tempat dimana anda menyimpan backup registry sebelumnya > Open

Semoga bermanfaat…:)

Hutan Konservasiku Malang …

Neokolonialisme telah lahir dan terus berkembang menyergap bumi selatan. Sumberdaya alam yang dimiliki bumi sebenarnya hanya dihabiskan oleh segelintir orang yang bergaya hidup sangat boros. Perkembangan jumlah penduduk yang terjadi sangat pesat di negara-negara sering dijadikan kambing hitam sebagai pihak yang menghabiskan sumberdaya alam dunia. Gaya hidup boros di Utara menjadi faktor penyebab utama.
Banyak negara-negara utara melindungi sumberdaya hutan alamnya, sementara kebutuhan akan kayu yang tetap menggiurkan akan dipenuhi dari bumi selatan, tak mengherankan apabila demand akan produk kayu di kawasan tingkat regional Asia Tenggara terus meningkat. Sebagai contoh China, misalnya, telah mengimpor kayu lebih banyak daripada plywood, lebih banyak impor pulp daripada kertas, untuk lebih banyak lapangan kerja dinegaranya. China juga sudah menghentikan prodiksi kayu dinegaranya, sehingga kebutuhan akan kayunya diperoleh dari Russia, Indonesia, Malaysia, dan Kanada.
Ketika stok kayu di hutan-hutan produksi mulai menipis, illegal logging mulai mengarah pada kawasan-kawasan konservasi, antara lain taman-taman nasional dan juga mengarah ke Indonesia bagian Timur: Papua, Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah merupakan contoh paling nyata keliaran illegal logging telah menghancurkan taman nasional di Indonesia.
Terlepas dari carut marut kondisi taman nasional di Indonesia, ternyata kita masih memiliki kawasan-kawasan konservasi termasuk hutan lindung yang lumayan luas. Kita masih memiliki  stok 28 juta hektar kawasan konservasi yang tersebar di 530 lokasi, yang menjadi masalah selanjutnya adalah mampukah kawasan-kawasan konservasi tersebut bertahan terhadap hantaman meningkatnya demand kayu global dan regional serta kebutuhan lahan akibat invasi perkebunan sawit dan dilanjutkan dengan tambang pada skala nasional ? Semoga saja pemerintah saat ini mau memperhatikan masalah tersebut, karena dampak kerusakan hutan terbukti juga dapat melewati batas-batas negara, seperti bencana banjir, tanah longsor, konflik satwa liar-manusia, kebakaran dan pembakaran lahan beserta kabut asapnya.
Hal ini belum terhitung dampak berantai yang timbul seperti menurunnya kesuburan tanah, penyakit, hama, bencana kekeringan dan sebagainya. Tampaknya, pemerintahan yang kuat dan legitimate, serta kebijakan politik nasional yang berpihak pada konservasi dan rehabilitasi sumberdaya hutan, dapat menjadi salah satu faktor penentu utama kemana masa depan hutan di Indonesia akan dibawa.

Perdagangan Karbon (Carbon Trading)

APA ITU CARBON TRADING ???
Dalam beberapa tahun belakangan, mugkin sering anda dengar istilah Perdagangan Karbon atau Carbon Trading yang diangkat oleh beberapa media massa di tanah air. Dan mungkin anda juga bertanya-tanya, apa sich Carbon Trading tu ??? apakah Indonesia mau berjualan arang Karbon yang dikemas dalam suatu wadah gitu ??? Truz yang mau beli tu siapa ???

Hmm… sebenarnya Carbon Trading merupakan kompensasi yang diberikan oleh negara-negara industri maju untuk membayar kerusakan lingkungan yang sudah mereka buat. Salah satunya asap karbondioksida (CO2) yang dihasilkan pabrik-pabrik di Eropa dan AS sudah terlalu sesak dan memenuhi atmosfer bumi kita, yang berakibat naiknya suhu bumi  (istilah trendnya “Global Warming” gitu..) serta lubang dilapisan ozon yang makin luas.

Salah satu cara untuk memperbaiki kerusakan ozon adalah dengan mempertahankan produksi karbon dari hutan-hutan di Indonesia, Asia Pasific, Amerika Selatan, ataupun Papua New Guinea. Kompensasi diambilkan dari pembayaran negara-negara maju tersebut atas kerusakan lingkungan yang dibuat.

Jadi singkatnya, negara-negara yang maju industrinya (tapi juga paling maju dalam hal merusak lingkungan) harus membayar kompensasi kepada Negara yang memiliki luasan hutan yang besar terutama Brazil dan Indonesia atas polusi industrinya. Karena hanya hutanlah yang mampu menyerap asap CO2 yang ada di atmosfir.

Perdagangan karbon dunia semakin meningkat sejak ditandatangani Protokol Kyoto, di mana negara-negara di dunia sepakat untuk menekan emisi karbon dioksida rata-rata 5,2 persen selama 2008 hingga 2012. Di bawah kesepakatan Protokol Kyoto, negara industri maju penghasil emisi karbon dioksida diwajibkan membayar kompensasi kepada negara miskin dan atau berkembang atas oksigen yang dihasilkannya.


TRUZ BENEFIT APA YANG DIDAPAT ???
Hmm….menurut informasi yang saya dapat dari sana-sini, harga karbon di Indonesia yang ditawar negara-negara maju saat ini adalah 3 dollar per Hektar/ton/tahun. Padahal, hutan di Brazil dihargai 12 dollar. Sangat mengherankan memang.
Sedangkan Indonesia saat ini hanya memiliki  hutan sekitar 90-an juta Hektar saja, itupun tak semuanya dalam kondisi baik. Jadi kalau mau tau keuntungan yang diperoleh Indonesia ya tinggal mengalikan saja harga per Hektar dengan luasan hutan yang ada.

Indonesia baru akan menjual potensi hutannya selepas tahun 2012 nanti, atau setelah Kyoto Protokol (2008-2012) berakhir. Namun saat ini sudah banyak lembaga internasional dan perusahaan asing datang ke Indonesia, dan mereka langsung ke kabupaten dan provinsi untuk menawarkan membeli karbon Oleh karena itu tugas bagi pemeritah untuk membuat peraturan untuk perdagangan karbon ini. Tentu Indonesia tidak ingin ada perjanjian yang merugikan. Harga karbon, durasi perjanjian, distribusi benefit-nya harus dipikirkan. Serta peran dari masyarakat dan tentunya “orang-orang kehutanan” sangat diperlukan untuk merehabilitasi hutan yang rusak dan melestarikan hutan yang ada.

Semoga bermanfaat…..:)

Mencegah Virus Bootable dari Flash Disk

Sungguh mengejutkan perkembangan virus didunia saat ini. Tak mau ketinggalan para virus maker di Indonesia pun juga ikut ambil bagian dalam perkembangbiakannya, baik virus baru maupun varian-varian baru dari virus lama.

Masih ingatkah anda saat virus brontok berhasil menggemparkan dunia???
Atau virus CODE RED yang dibuat para virus maker di China karena mereka marah saat pesawat Stealth Amerika menabrak pesawat tempur China. CODE RED menghacking Amerika, dan hebatnya lagi sistem komputer di White House lumpuh total.. WOW...

Dalam artikel ini saya akan memberikan Cara Mencegah Vrus Bootable dari Flash Disk, yang tentunya sudah menjadi momok ketika kita was-was apakah Flash Disk kita dihinggapi Virus entah itu dari warnet atau  komputer lain.

Virus model kayak gini biasanya menggunakan beberapa script. Script Ini berisi sederetan perintah untuk menjalankan dirinya sendiri tanpa menunggu diaktifkan/doubleclick dari sang user. Jadi tanpa kita sadari ketika Flash Disk kita yang dihuni oleh virus jenis ini kita colokkan ke komputer, maka secara otomatis virus ini telah menjangkiti komputer kita. Autorun.inf, desktop.ini, atau Folder.htt adalah script yang biasanya akan dibuat oleh virus, dan tentu saja script-script tersebut diberi attribut hidden agar tidak terdeteksi langsung oleh kita.


Saya akan memberikan dua cara untuk mengatasinya. Untuk menonaktifkan Autorun/Autoplay anda dapat menggunakan salah satu cara dibawah ini :


1. Disable (mematikan) Autorun/Autoplay melalui Registry dengan langkah sebagai berikut :

- Buka jendela Registry Editor dengan cara klik START > RUN > pada kotak Run ketikkan regedit > OK
- Tuju bagian ini :
  HKEY_CURENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer
- Pada kolom sebelah kanan pilih (double klik) pada string NoDriveTypeAutoRun
- Ubah value data dengan ff yang berarti fungsi Autorun/Autoplay akan dinonaktifkan pada 255 drive.
- Tuju bagian ini :
  HKEY_USERS\.DEFAULT\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer
- Pada kolom sebelah kanan pilih (double klik) pada string NoDriveTypeAutoRun
- Ubah value data dengan 95 yang berarti fungsi Autorun/Autoplay akan dinonaktifkan


2. Disable (mematikan) Autorun/Autoplay melalui Group Policy dengan langkah sebagai berikut :

- Buka jendela Registry Editor dengan cara klik START > RUN > pada kotak Run ketikkan gpedit.msc > OK
- Setelah muncul jendela Group Policy pilih Computer Configuration\Administrative Template\System
- Pada kolom setting (sebelah kanan) doubel klik Turn off Autoplay, maka akan muncul kotak dialog Turn off Autoplay
- Secara default fitur ini dalam kondisi Not Configured. Ubahlah menjadi Enable, kemudian pilih All Drive pada kolom TUrn off   Autoplay on : .
- Klik tombol OK
- Lakukan settingan yang sama pada User Configuration\Administrative Template\System
- Tutup jendela Group Policy dan restart komputer anda.


Dengan cara diatas kita dapat menghindarkan serang virus jenis autorun menyarang komputer kesayangan kita dan kita dapat menghapus script-script diatas secara manual.
Jadi kita bisa menghapus / melawan virus tanpa antivirus. Wow....


Nb. Untuk menampilkan script-script virus, terlebih dahulu ubah settingan pada Folder Option agar menampilkan file / folder yang berattribut hidden. Caranya klik START > CONTROL PANEL > FOLDER OPTION > pada tab VIEW plih option "Show hidden files and folder" dan hilangkan tanda cek 'v' pada option "Hide protected operating system files (Recommended)". Klik Apply kemudian OK.

Pengaruh Faktor Abiotik Terhadap Keanekaragaman Jenis Burung Di Petak 13, Wanagama I, Gunung Kidul, Yogyakarta

Pengaruh Faktor Abiotik Terhadap Keanekaragaman Jenis Burung
Di Petak 13, Wanagama I, Gunung Kidul, Yogyakarta
Oleh :
Drajat Dwi Hartono
INTISARI
Petak 13 Wanagama I merupakan hutan rehabilitasi yang memiliki potensi sebagai habitat berbagai macam jenis burung. Kondisi hutan rehabilitasi yang berbeda dengan hutan alam tentu akan berpengaruh terhadap keanekaragaman burung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor abiotik Petak 13 terhadap keanekaragaman jenis burung.
Penelitian dilakukan pada bulan November 2010 di petak 13 Wanagama I. Metode pengambilan data burung dan faktor abiotik adalah point count sejumlah 15 buah dengan penempatan menggunakan sistem sytematic sampling with random start. Faktor abiotik yang diteliti adalah kelembaban, suhu, jarak dari sumber air serta kelerengan. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui jenis burung yang menggunakan petak 13 sebagai habitatnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan serta pengaruh negatif antara kenekaragaman jenis burung dengan suhu dan kelembaban. Diperoleh persamaan linear y = -3.25149 + 0.08754 x1 + 0.02176 x2. Nilai R square dari persamaan linear tersebut adalah 0,1399. Ditinjau dari aspek ekologi, burung membutuhkan suhu dan kelembaban optimal untuk dapat tinggal suatu wilayah, suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi menyebabkan menurunnya keanekaragaman jenis burung, sehingga terjadi perbandingan terbalik antara keanekaragaman jenis burung dengan suhu dan kelembaban di petak 13, Wanagama I.
Kata kunci : Wanagama, abiotik, keanekaragaman burung, point count

Download .pdf

Hotspots of Carbon Confusion in Indonesia Threaten to Warm the World More Quickly

Indonesia has promised to become a world leader in reducing greenhouse gas emissions. In 2009, the president committed to a 26% reduction in greenhouse gas emissions by 2020 to below 'business-as-usual' levels. Of this total, 14% would have to come from reducing emissions from deforestation or forest degradation. Investments by foreign governments and other bodies are expected to raise total emission reduction from 26% to 41%.

While international negotiations on rules about how to reduce emissions and slow global warming are slow but ongoing, the Indonesian and Norwegian governments signed a letter of intent under which up to US$ 1 billion is available to assist in setting up a 'stop deforestation and forest degradation' system that also addresses peatland emissions. Part of the agreement is that Indonesia will implement a moratorium or 'two-year suspension on all new concessions for conversion of peat and natural forest'.

Promising as this may sound, the devil is in the detail. A lot depends on how 'peat' and 'natural forest' are defined and how rights are agreed upon. Strong lobbies from the forest and tree-crop plantation industry argue that the economy will be harmed if 'business as usual' is interrupted. According to news sources, definitions of 'natural forest' and 'peat' differ between drafts prepared by the Indonesian Government's emissions reduction taskforce and by the Ministry of Forestry. There are several key issues that need to be resolved.

First, if the moratorium is limited to the 'kawasan hutan' (forest estate), one-third of current emissions from clearing or converting woody vegetation will remain unaccounted for. The institutional mandates and types of permits issued by the government differ between 'kawasan hutan' and the 'other land uses' category, however. Multi-strata agroforests managed by farmers used to cover approximately 10% of the country (or 20 million hectare) in 1990 but were reduced to about 17 million hectare by 2005, with further conversion continuing to this day. Part of this change is based on the economic incentives farmers perceive from conversion to monoculture farming and part is due to external pressure.

Second, the draft of the Ministry of Forestry aims to allow for new plantation concessions in logged forests, where tree planting or conversion to monocultural tree plantations is presented as forest improvement. The Ministry proposes a moratorium limited to protecting primary forests, and defines these as 'natural forests untouched by cultivation or silvicultural systems applied in forestry'. Part of Indonesia's logged-over (secondary) forest still has high carbon stocks and is important for biodiversity conservation. It would help if a map of Indonesia could clarify where the moratorium applies.

Third, peatlands are immense storage houses for carbon and their protection from drainage and fire play a crucial role in the reduction of carbon emissions. Peatlands occur both within and outside of the forest estate and are source of emissions whether forested or not. The Ministry of Forestry draft excluded any new concessions on peatlands deeper than three metre, but this is already illegal and yet still occurs. A further challenge is that existing maps of peat depth are not very accurate.

Fourth, laws, regulations and customary norms applied by different levels of government, the private sector and local communities have often conflicted in the past and continue to do so in the present. These conflicts hamper the application of any scheme and will need serious attention to resolve.

These issues are hot in peatland-rich Central Kalimantan, which has been selected by the Indonesian and Norwegian governments as the primary pilot province for the proposed emissions reduction scheme. Over the past few decades in the province, shifting national policies have shaped the distribution of power and the actual use of peatland, with hundreds of thousands of hectare cleared of forest in a failed attempt to create farmland.

Expectations of payments for carbon emission reduction are currently shaping decisions over natural resource management. But any actions to reduce emissions will need to appreciate the institutional complexity. Different levels of government and the private sector are attempting to influence policy and exercise power, each interpreting history, facts, rules and norms differently in support of their own claims.

The World Agroforestry Centre's research shows that the contesting claimants used the current contradictions and inconsistencies of Indonesian laws, multi-sector policies and the articulation of local property and customary rights for their own purposes. Legal arguments were not necessarily decisive in settling disputes and the lack of respect for legality contributed to confusion, undermining authority.

Furthermore, carbon rights in the area were not clear. They are at least as complex as the laws, regulations, layers of government, NGOs and private sector players that interact during the process that starts with a natural forest and ends with a landscape with few trees, high emissions but still high carbon stock, that is, the peatlands of Kalimantan.

A letter from Yayasan Petak Danum (Water Land Foundation, an NGO in Central Kalimantan) published on 27 February 2011 on red-monitor.org (http://www.redd-monitor.org/2011/02/27/community-concerns-with-the-kalimantan-forests-and-climate-partnership-no-rights-no-kcfp/#comment-111415) highlights the impact of these complexities on indigenous people's groups involved with one of the pilot projects designed to help reduce emissions in the province, the Kalimantan Forests and Climate Partnership. The World Agroforestry Centre conducted research into tenure and other issues for the Partnership in the early days of the project, which has been encapsulated in ASB Policybrief 21, Hot spots of confusion: contested policies and competing carbon claims in the peatlands of Central Kalimantan, Indonesia (http://worldagroforestry.org/sea/publications?do=view_pub_detail&pub_no=PB0017-11).

All this is also pertinent in a place like the Tripa swamp along the western coast of Aceh, where a block of dense swamp forest on peatland, high both in carbon stock and orangutan population density, is threatened by conversion to oil palm.

Part of the permits for such conversion exist but conflicts remain between local communities, local and national governments and private companies. The land status was changed a decade ago from 'watershed protection' forest to 'other land uses'. The forest is, therefore, outside the proposed definition of 'forest' under the emission reduction scheme yet it is exactly the type of carbon stock that the world wants saved.

If conversion to oil palm takes place, it will be widely seen as a failure of the moratorium and the international commitment made by Indonesia.

Recent studies by the World Agroforestry Centre, Yayasan Ekosistem Leuseur and PanEco provide details on the case.

Although it is a challenge to resolve all the above issues in a country the size of Indonesia, it can happen if a) the goal of reducing carbon emissions while supporting human wellbeing is kept in focus; b) the moratorium is clear and operational; and c) it goes beyond restating existing regulations that have not prevented 'business as usual'. This leads to several recommendations.

* First, all forests, irrespective of their location and land status, should be included.
* Second, logged forests should be included and protected under any emissions reduction scheme because they still contain high carbon stocks and substantial biodiversity.
* Third, all peatlands should be included, irrespective of their depth.
* Fourth, the definition of 'forest' should be made relevant to its purpose, which is to reduce carbon emissions by avoiding removing or decreasing woody vegetation.
* Fifth, national and provincial governments are two among several contesting players and a negotiated settlement is needed rather than asserting a single legal authority.
* Sixth, market-based implementation of an emissions reduction scheme will add confusion because unresolved carbon rights are an addition to the already complex layers of unresolved property rights. A 'co-investment' approach, in which all parties work together for human and environmental benefit at local and global levels, can contribute to resolving disputes on property rights and see more transparent use of state authority.

For the moratorium, a simple rule could be that it applies to new concessions on all lands, except those with an aboveground carbon stock of less than 35 tonne of carbon per hectare, and it applies to all peatlands regardless of the amount of above-ground carbon. This would be relatively easy to map and monitor. It would set clear rules to move forwards for now. It would buy time to think through the issues that relate to the lands that are included in the moratorium and refine rules in future as needed. (sciencedaily)

Forest Stewardship Council Certifies Plantations

A troubling fact has come to our attention: an increasing number of large-scale tree monocrops are receiving Forest Stewardship Council (FSC) certification throughout the world.

Among the plantations recently given a "green" stamp of approval are Shell's plantations in Argentina, Chile, Paraguay and Uruguay; SAPPI's, MONDI's and SAFCOL's in South Africa; Klabin's and V&M Florestal's in Brazil; Perum Perhutani's in Indonesia; Fletcher Challenge's in New Zealand/Aotearoa and many others. If this trend continues, many more tree monocultures will also be guaranteed "sustainable" by the FSC, an organization which enjoys great credibility among the public.

The FSC was created as a result of increased awareness by consumers about their role in forest destruction, resulting from successful NGO campaigns, particularly regarding unsustainable logging practices in the tropics. When consumers began to ask their suppliers for certified wood, a number of NGOs decided to promote a process which could give them the choice of a "green" product. The NGOs came up with a number of principles and criteria that they insisted should be met before an FSC certificate was granted.

Nine of those principles are focused on forests and one on plantations (number 10). We believe that it is this decision -- to allow large-scale monoculture plantations to be certified along with other forestry operations -- which lies at the root of the current disturbing trend. People throughout the world are increasingly aware that plantations are not forests. Numerous local communities and organizations have documented the impacts of large-scale plantations and opposed them because of their social and environmental impacts. The plantations in question have resulted either in deforestation or in the degradation of other ecosystems, particularly grasslands and wetlands. On the ground reality is showing that large-scale tree monocultures -- no matter how many mitigation measures are implemented -- inevitably result in large-scale impacts on water, soils, flora, fauna and people because of their sheer scale.

Even if one accepts -- which we don't -- that plantations are forests, the fact is that Principle 10 is so weak that most plantations -- with the exception of those in areas marked by land conflict -- can be declared "sustainable" and given FSC certification.

We do not pretend to challenge the FSC and even less to question our NGO friends involved in it. What we do request is for them to revisit the whole issue of plantation certification, to take into account the plentiful existing documentation regarding the basic unsustainability of the plantation forestry model and either to exclude plantations from FSC certification altogether or to modify substantially Principle 10.

The FSC's main strength is its public credibility. Certification of unsustainable forestry operations -- such as large-scale tree monocultures -- can erode this credibility. A critical review of its own principles by the FSC can only increase it. We sincerely hope that the FSC will be able to accomplish the latter. (Forestnews)

Unique Orangutan Reintroduction Project Under Imminent Threat

KALIMANTAN - A Sumatran rainforest named a global priority for tigers and home to a unique orangutan rescue project is targeted for clearcutting by one of the world's largest paper suppliers.

An investigation found that since 2004, companies affiliated with Asia Pulp & Paper/Sinar Mas Group have sought out selective logging concessions with dense natural forests in the Bukit Tigapuluh landscape. The companies obtained government licenses to switch the forest status to industrial timber plantation concessions, sometimes under legally questionable circumstances. This allows for clearcutting and planting of commercial plantations, making homeless the indigenous forest-dwelling tribes and endangered species. This is in breach of the company's claims that it doesn't clear high-quality forest.

"Our investigation found that in the last six years, the company in this landscape alone contributed to loss of about 60,000 hectares of forest without appropriate professional assessments or stakeholder consultation," said Susanto Kurniawan of Eyes on the Forest. "This is one of very few remaining rainforests in central Sumatra; therefore we urge the Government not to give it away to APP/SMG, who will mercilessly eliminate it and devastate local communities and biodiversity."

Bukit Tigapuluh harbors close to 320,000 hectares of natural forest, with around 30 tigers, 150 elephants and 130 rescued orangutans that were released here. "These great apes are the survivors of the illegal pet trade who were confiscated and are finally getting a chance to live and breed again in the wild," said Julius Paolo Siregar of the Frankfurt Zoological Society. "Forest conversion plans mean certain death for many of them."

It is also home to two forest-dwelling tribes -- the Orang Rimba and Talang Mamak -- who are "being driven off their ancestral land by APP and other companies," said Diki Kurniawan from WARSI. "Many must now beg for rice handouts to survive."

Bukit Tigapuluh has been deemed one of 20 landscapes critical to the long-term survival of tigers by international scientists. In November, Indonesia pledged at a global tiger summit to make it a focal area for tiger conservation.

"The Bukit Tigapuluh landscape is a major test of Indonesia's $1 billion climate agreement with the Kingdom of Norway," said Aditya Bayunanda of WWF-Indonesia. "We stand ready to help the Government find ways to protect the forest and Indonesia's natural heritage."(ScienceDaily)
Newer Posts Older Posts Home

 

Followers

 

Templates by Drajat Dwi Hartono | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger