Kelestarian Tumbuhan dan Satwa Liar Di Kawasan Tambang

Matahari mulai beranjak mendekati titik tertinggi dari bumi, sebentar lagi waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB. Seperti hari-hari sebelumnya kami segera mencari pohon atau naungan semak terdekat untuk beristirahat selama satu jam. Tapi hari ini berbeda, kami bertiga memperoleh transek (jalur pengamatan penelitian) yang tepat berada di tepi jalan inspeksi pompa angguk minyak bumi (rig). Kamipun terpaksa berteduh di bawah pohon yang tingginya baru sekitar tiga meter dan membersihkan semak-semak di sekelilingnya untuk duduk atau sekedar merebahkan badan. Terik matahari terasa menyengat sekali karena kami sedang berada di area ladang minyak yang tergolong masih baru, sehingga tumbuhan yang ada di area ini masih jarang. Debu dan udara panas menjadi suasana harian di kawasan ini. Sesekali kami harus meringkuk dan menutup kembali nasi bungkus yang sedang kami nikmati ketika truk atau mobil inspeksi ladang minyak melintas di depan kami disusul dengan debu beterbangan dibelakangnya. 

Oh iya, kali ini saya dan dua teman saya sedang berada di kawasan ladang minyak salah satu perusahaan minyak di Provinsi Riau, melakukan penelitian terkait habitat Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang berada di kawasan ini. Variabel yang diteliti antara lain kondisi fisik habitat, keanekaragaman tumbuhan serta satwa liar yang hidup di kawasan ini. Kesaksian petugas patroli keamanan dan beberapa karyawan yang pernah melihat secara langsung keberadaan Harimau Sumatera di kawasan ini menyebabkan perusahaan mengadakan kerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Riau dan Fakultas Kehutanan UGM untuk meneliti kondisi habitat, populasi serta sebarannya di kawasan perusahaan. 

Sejak pagi sekitar pukul 08.00 WIB hingga siang ini kami telah menemukan beberapa tanda kehadiran satwa liar yang hidup di kawasan ini, seperti Babi Hutan di temukan jejak kakinya dengan berbagai ukuran, jalur lintasan serta kotorannya bahkan beberapa hari sebelumnya kami sempat bertemu secara langsung dengan kawanan kelompoknya. Tanda kehadiran satwa lainnya adalah Gajah Sumatera, ditemukan jejak kakinya yang berdiameter sekitar 50 cm serta jalur lintasannya. Kera Ekor Panjang, Biawak, dan beberapa spesies burung juga kami jumpai secara langsung di kawasan ini beberapa hari sebelumnya. Jejak kaki Tapir, Kucing Hutan, bekas cakaran Beruang Madu di pohon serta lubang bekas galian Trenggiling juga kami jumpai di kawasan ini. 

Masih banyak dijumpainya beragam tumbuhan dan satwa liar di kawasan ini, tak lepas dari adanya peraturan yang diterapkan perusahaan yang melarang segala jenis penebangan pohon dan perburuan satwa di dalam kawasan. Hingga akhir penelitian di lapangan, Kami berhasil menemukan informasi mengenai Harimau Sumatera di kawasan ini berupa jejak kaki dan bekas cakaran di pohon, data mengenai jenis serta jumlah tumbuhan dan satwa liar yang hidup di kawasan ini. Saat ini perusahaan minyak ini sudah memiliki data mengenai keragaman tumbuhan dan satwa liar di kawasan operasi perusahaannya. Data ini sangat penting dan wajib untuk dimiliki setiap perusahaan yang memiliki kawasan berada atau di sekitar kawasan hutan. Data ini menjadi acuan untuk perencanaan pengelolaan sumber daya alam sebuah perusahaan. Bagaimana bisa dikatakan mengelola alam dengan baik apabila data penelitian mengenai potensi, jenis dan sebaran sumber daya alam yang berada di kawasan suatu perusahaan saja belum ada? 

Nah, hal ini menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh perusahaan tambang yang sebagian besar kawasan operasinya berada di kawasan hutan. Tak terkecuali bagi PT. Newmont Nusa Tenggara yang menjadi salah satu perusahaan tambang mineral besar di Indonesia. Aspek pengelolaan lingkungan hidup juga menjadi hal penting selama kegiatan penambangan berlangsung saat ini dan setelah perusahaan berhenti beroperasi kelak. Informasi berupa data mengenai tumbuhan dan satwa liar tersebut diatas menjadi data dasar dalam pengelolaan lingkungan hidup. 

Adanya data dasar tersebut dan penelitian yang dilakukan secara berkelanjutan dapat memberikan gambaran dinamikan populasi dan persebaran tumbuhan dan satwa liar yang hidup di kawasan perusahaan. Sehingga perencanaan pengelolaan serta alokasi dana perusahaan untuk pengelolaan lingkungan menjadi lebih tepat sasaran. 

Tak bisa dipungkiri banyak masyarakat masih bergantung hidupnya pada PT. Newmont Nusa Tenggara sebagai karyawan perusahaan. Keberadaan perusahaan ini tidak hanya diharapkan menjadi pihak yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, akan tetapi juga mampu menjaga kelestarian lingkungan hidup sekitarnya. Keberadaan dan kelestarian habitat tumbuhan dan satwa liar di suatu tempat merupakan indikator kualitas lingkungan di kawasan tersebut. 

Sejauh mana pengelolaan lingkungan hidup yang diterapkan di PT. Newmont Nusa Tenggara? Mari mengenal tambang lebih dekat :) 

Semoga bermanfaat :)

Kiat Sederhana Mengelola Keuangan Pribadi / Keluarga


Hari gini masih berharap bisa menabung banyak dari sisa pemasukan setelah dibelanjakan ? Yakin ?

Tak mudah memang mengatur keuangan tiap bulannya agar pengeluaran selalu lebih kecil dibandingkan pendapatan, syukur-syukur bisa disisihkan untuk amal dan investasi. Ada-ada saja kebutuhan yang mendesak maupun yang seharusnya bisa ditunda pemenuhannya terjadi setiap bulannya. Belum lagi gempuran berbagai produk konsumsi yang terkadang sebenarnya tidak kita butuhkan, diiklankan seolah-olah kita wajib memiliki atau mengkonsumsinya. Ditambah inflasi mata uang kertas yang menyebabkan nilai tukarnya melemah dari tahun ke tahun. Lalu bagaimana dengan persiapan pemenuhan kebutuhan finansial di masa yang akan datang apabila hal ini terus kita alami?

Nah berikut ini ada beberapa kiat yang dapat dijadikan pedoman untuk mengelola keuangan pribadi maupun keluarga.

Sebagai dasar, kita harus mampu disiplin serta tegas terhadap diri sendiri untuk membedakan mana hal atau barang yang benar-benar menjadi Kebutuhan (need) atau hanya sekedar Keinginan (want). Pakaian, makanan dan tempat tinggal merupakan kebutuhan mendasar dari setiap individu manusia. 

Akan tetapi, kebutuhan ini bisa meningkat statusnya menjadi Keinginan (want), misal, sewaktu jalan-jalan di pusat perbelanjaan kita membeli baju atau celana lagi karena sedang diskon, model terbaru, merk terkenal (branded). Padahal di rumah kita sudah memiliki 12 setel baju dan celana yang masih bagus dan layak pakai. Ataupun aksesoris lainnya yang sering kita tergoda untuk membeli, ujung-ujungnya hanya ditumpuk di almari dan tak jarang merasa menyesal setelah membeli barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan.

Setelah kita mampu mendisiplinkan diri hal maupun barang yang menjadi kebutuhan atau keinginan, selanjutnya pengalokasian pendapatan yang diperoleh tiap bulan dengan pola Piramida Keuangan. Selama ini mungkin kita masih menggunakan pola piramida terbalik untuk mengelola keuangan. Pendapatan/gaji yang diperoleh dibelanjakan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan, baru sisanya ditabung atau investasi (itupun kalo ada sisa :p).
Baik, seperti apa pola untuk mengelola keuangan, lihat ilustrasi alokasi dana pada Piramida Keuangan di bawah ini.
1. ZISWAF (Zakat, Infaq, Sedekah, Wakaf)
Hal pertama dan menjadi prioritas utama dalam alokasi dana adalah ZISWAF. Sebelum gaji atau pendapatan lain dibelanjakan, maka sisihkan terlebih dahulu untuk ZISWAF yang bersarnya minimal 2,5 % dari total pendapatan perbulan. Misal dalam artikel ini, perbulan pendapatan total Rp. 3.000.000,- maka minimal alokasi dana untuk ZISWAF adalah Rp. 75.000,-. Sebuah nominal yang kecil jika dibanding pendapatan yang diperoleh, akan tetapi menjadi perbandingan nominal besar jika ZISWAF dikeluarkan setelah pendapatan dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan.

2. Tabungan Darurat (Emergency Saving)
Prioritas pemenuhan kedua setelah ZISWAF adalah Tabungan Darurat. Tabungan ini digunakan untuk mengantisipasi kejadian yang mendadak dan darurat misalnya ada anggota keluarga yang sakit, kecelakaan atau bencana lain. Tabungan ini juga diperlukan ketika kita tidak memiliki asuransi jiwa. Besar tabungan ini idealnya 3x (tiga kali) total pendapatan perbulan. Sehingga nominal tabungan darurat adalah Rp. 9.000.000,-. Untuk mencapai nominal ini bisa dilakukan dengan cara menyisihkan uang perbulan, misal Rp. 125.000,-

3. Investasi dan Tabungan
Prioritas pemenuhan kebutuhan selanjutnya adalah investasi dan tabungan. Investasi di sektor nonriil bisa dilakukan dalam bentuk deposito, emas, maupun sukuk, sedangkan di sektor riil dapat dilakukan dengan pemberian modal kepada pedagang-pedagang kecil atau usaha skala menengah hingga besar yang dapat dipercaya. Tabungan sendiri dapat berupa tabungan reguler di bank syariah maupun tabungan dengan tujuan khusus misalnya tabungan pendidikan untuk anak atau tabungan haji dan umrah. Misal, alokasi dana untuk hal ini Rp. 250.000,- perbulan.

Nah, alokasi dana untuk investasi dan tabungan tidak terlepas dan sering terjadi tarik-menarik dengan gaya hidup kita. Handphone pengin punya 1,2,3 atau lebih? Makan murah sederhana asal bergizi atau makan di rumah makan yang harus merogoh kantong lebih dalam? Semakin orang berfikir untuk masa depan maka orang itu akan semakin hemat dan bisa merencanakan keuangan.

4. Belanja
Yak, setelah ketiga kebutuhan tersebut diatas telah terpenuhi, baru saatnya kita menggunakan sisa dana yang ada untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti makanan, pajak listik, air, beli pulsa, bahan bakar kendaraan dan lain-lain. Dari seluruh pengeluaran tersebut di atas masih ada dana Rp. 2.550.000,- yang dapat digunakan untuk alokasi belanja selama satu bulan. Masih kurang? atau kurang banget? hehe... Itu semua tergantung kebijaksanaan kita dalam mengelola rejeki yang diperoleh.

Mudah-mudahan dengan pendekatan tersebut di atas kita menjadi lebih bijak dalam mengelola keuangan. Kedisiplinan kita dalam mengelola keuangan menjadi kunci keberhasilan kita di masa depan. Prioritaskan pada urutan pertama apa yang menjadi kewajiban kepada Allah untuk membelanjakan sebagian rejeki yang diperoleh di jalan-Nya.

Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:
"Hamba itu berkata, "Hartaku, hartaku", tidaklah menjadi hartanya kecuali tiga: Yang ia makan kemudian habis, Yang ia kenakan kemudian usang, Yang ia sedekahkan, maka itulah yang dikumpulkannya. Adapun yang selain itu, maka akan sirna dan ia akan meninggalkannya untuk orang lain." (HR Muslim)

Semoga Bermanfaat :)

Sumber : Pemaparan Ust. Muhammad Syafii Antonio, Pakar Ekonomi Syariah,

Educator, Entrepreneur, Chairman of Tazkia Group Andalusia Islamic Center
http://www.syafiiantonio.com/
Gambar diskon : www.seputaraceh.com

Tiger Survey Team (Part III) Akhir

Udara panas yang mengelilingi bukan hanya berasal dari terik matahari saja akan tetapi juga dari panas yang berasal dari pipa-pipa besi yang mengalirkan uap air panas diseluruh area Duri Field. Secara prosedur keamanan dan keselamatan kerja, kami dilarang untuk melintasi pipa besi yang ada, akan tetapi karena jalur transek penelitian ada yang harus melintasi pipa. Maka, dari pihak Cevron mengijinkan kami melintasi pipa besi dengan catatan harus dipastikan terlebih dahulu suhunya terlalu panas atau tidak. Ada cara unik kami untuk memastikan suhu pipa yaitu dengan cara meludahi pipa tersebut kemudian apabila air ludah seperti mendidih maka kami akan berhati-hati melintasinya karena pipa tersebut mengalir uap air panas.Tak jarang pula kami harus menyeberangi kanal air mulai dari  ketinggian air sedengkul hingga sedada ketika di lapangan. Lengkaplah sudah panas dapet dingin juga dapet. 

Pipa uap air panas dan kanal
Kami mulai mengambil data di lapangan sejak pukul 08.00 hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Rata-rata kami menghabiskan 2 Liter air mineral perhari selama di lapangan, ya, suhu udara yang begitu panas menjadikan baju yang kami kenakan basah oleh keringat beberapa saat setelah berada di lapangan. Rasanya matahari terlalu terburu meninggi sewaktu kami di lapangan. Waktu menunjukkan pukul 12.00, artinya kami harus beristirahat selama 1 jam sesuai peraturan yang berlaku. Sebungkus (1,5 porsi menurut saya) bekal makanan masakan padang yang dibeli pagi hari ketika berangkat ke lapangan siap disantap. Awalnya sih ngerasa bosen tiap hari makan siang dengan menu seperti itu, terlebih saya pribadi kurang cocok dengan masakannya. Lama kelamaan karena tuntutan perut, saya jadi cocok dengan masakan padang. Dan yang menjadi favorit saya ketika makan masakan padang di sana adalah sambel lombok ijo nya mennn.., bbeeehh mantapp!!  belum pernah saya makan sambel lombok ijo seenak itu selama di Jawa. Ada rasa asam, asin, aroma dan rasanya seger dah pokoknya beda, kalo kata Pak Bondan "This is it" (lhoh..)

Cakaran Beruang Madu
Pagar yang dirusak Gajah liar
Beberapa hal yang sangat menarik kami jumpai di sana. Spesies burung yang hanya ada di Pulau Sumatera, Kera liar, Babi hutan yang mendominasi, bekas cakaran Beruang Madu di pohon, jejak Gajah liar dengan diameter hampir mancapai satu meter, bahkan beruntung sekali kami bisa bertemu langsung dengan Gajah liar dengan tinggi sekitar 3 meter yang nampaknya terpisah dari kawanannya. Area Duri Field ini telah dikelilingi pagar kawat sebagai pembatas dengan lahan milik masyarakat dan perusahaan kelapa sawit di sekitarnya. Lalu bagaimana cara Gajah segede itu bisa masuk ke dalam kawasan Duri Field ? Gajah dengan mudah merobohkan pagar kawat besi yang mengelilingi kawasan. Gajah memiliki kecenderungan rute migrasi yang tetap, sehingga apapun yang terjadi Gajah akan melewati rute tersebut bersama dengan kelompoknya. Kita sering mendengar berita bahwa Gajah liar memasuki areal perkebuanan Kelapa Sawit dan pekarangan penduduk. Kemungkinan besar lahan yang telah beralih fungsi tersebut dulunya adalah lintasan migrasi Gajah, jadi jangan salahkan Gajah kalo dia lewat situ lagi. Satu hal yang paling ditakuti oleh perusahaan maupun masyarakat yang memiliki kebun kelapa sawit adalah serangan Gajah terhadap kebun mereka. Gajah sangat menyukai tanaman Kelapa Sawit yang masih muda, sehingga apabila sekelompok Gajah menyerang sebuah kawasan kebun keesokan harinya tanaman Kelapa Sawit yang ada sudah ludes dimakan oleh Gajah. Tidak main-main satu kawanan/kelompok gajah bisa terdiri hingga 50 individu, tak ayal tanaman berhektar-hektar ludes dalam waktu semalam.

Pemasangan Camera Trap Bushnell
Nah ini dia, satwa liar yang menjadi fokus utama pada penelitian ini nampaknya belum menampakkan tanda-tanda keberaannya hingga hampir akhir penelitian. Akhirnya, salah satu tim menemukan bekas cakaran satwa ini di salah satu batang pohon. Diarea sekitarnya memang lokasi ini sudah lama tidak difungsikan lagi oleh pihak perusahaan sehingga hampir mirip dengan hutan, penuh semak dan pohon dengan kondisi yang berbeda dengan area yang masih aktif pengambilan minyak mentahnya. Dilokasi ini juga terdapa danau yang diduga kuat menjadi salah satu sumber air bagi seluruh satwa liar yang hidup di kawasan ini. Setelah berdiksusi bersama, tim memutuskan untuk memasang beberapa kamera trap di beberapa titik yang dianggap potensial satwa ini akan menampakkan diri.

Kondisi area Duri Field saat ini merupakan hutan sekunder bekas perusahaan HPH sehingga sangat jarang ditemui pohon-pohon besar. Spesies (jenis) pohon yang ada di area ini hanya dijumpai sebanyak 21 jenis. Meski demikian masih ada beberapa spesies pohon yang belum pernah saya jumpai. Pengalaman menjumpai spesies pohon yang belum pernah saya jumpai selama ini merupakan hal menarik tersendiri. Bisa dibilang karena saya kuliah di Fakultas Kehutanan, saya jadi tertarik untuk mempelajari lebih jauh tentang pohon, mulai dari jenis, anatominya hingga kesesuaian jenis pohon dengan lingkungannya. Jadi kita tidak boleh sembarangan asal menanam pohon, bukannya untung malah menimbulkan musibah jika asal-asalan menanam pohon.

Itulah sekelumit pengalaman yang diperoleh ketika berkesempatan mempelajari mengenai salah satu spesies satwa liar yang dilindungi dan hanya ada di Indonesia, Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Pengelolaan habitat satwa ini ke depan rencananya akan dibuat semacam kawasan khusus bagi Harimau Sumatera yang disebut Tiger Sanctuary di bawah pengawasan BKSDA Riau. Semoga dimasa yang akan datang generasi-generasi selanjutnya masih dapat melihat satwa liar yang langka ini bukan di kebun binatang akan tetapi di alam liar habitat aslinya. Bukan lewat tutur cerita kakeknya akan tetapi secara langsung dapat mengamati merasakan pengalaman di alam.


Tiger Survey Team
Semoga bermanfaat :)




Tiger Survey Team (Part II) Petualangan Baru Dimulai

Suara pilot sudah memenuhi kabin penumpang, mengabarkan bahwa beberapa saat lagi burung besi yang ia kendalikan akan mendarat di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II. Ya, hijau memang, sejauh mata memandang dengan sudut pandang "Google Earth" dari jendela pesawat, tapi sayang, warna itu bukan berasal dari hutan alam yang katanya masih luas di pulau Sumatera, akan tetapi tanaman Kelapa Sawit (nama ilmiah Elaeis guineensis) yang berjajar rapi seperti barisan tentara siap menguras habis unsur hara dan air di dalam tanah. Panas terik, begitu kami menginjakkan kaki di tanah Sumatera. Saat itu areal bandara masih dalam tahap pembangunan, terlihat truk-truk dan pekerja berlalu-lalang sibuk bekerja ditengah hari. Keluar dari pintu kedatangan bandara kami sudah ditungu oleh tiga mobil double kabin dan sebuah minibus. Dua mobil yang kami tumpangi singgah terlebih dahulu di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pekanbaru, Riau. 
Trus yang dua lainnya? mereka ngantri minyak di SPBU dekat bandara. Solar di daerah ini memang sering mangalami keterlambatan pasokan, eh mungkin cuma di pulau Jawa aja ya yang pasokan BBM-nya lancar, telat dikit aja masyarakat uda pada protes sedemikian rupa. Menjelang shalat Jumat sekitar pukul 11.30, diskusi dengan pihak BKSDA Riau dimulai. Ada yang aneh dengan hal ini. Rapat kok jam segini baru dimulai, bukannya sudah mendekati waktu shalat Jumat? Ternyata diskusi hanya berlangsung sekitar 30 menit dan bukannya segera menuju masjid akan tetapi masih dilanjut ngobrol dengan pegawai BKSDA yang notabene banyak yang merupakan jebolan "Padepokan Rimbawan Bulaksumur". "Mas kok podo ora Jumatan to iki?", tanyaku kepada salah seorang pegawai. Kenapa saya bertanya pakai bahasa Jawa, karena menurut beberapa dosen dan saya, orang yang pernah kuliah di Yogyakarta apalagi di UGM dipanggil dengan sebutan "Mas/Mbak" dan wajib paham bahasa Jawa meskipun tidak bisa bicara dengan bahasa Jawa hehe.. "Woo dasar wong Jogja, kalo sini Jumatan mulainya jam 12.30 karena selisih waktu shalat sekitar 30 menit", jawab dia. Baru sadar saya, pantesan kok masih pada sibuk beraktifitas ketika jam 12.00. 
Tunggu dulu, 2 mobil lainnya belum kelihatan sampe shalat Jumat selesai, ternyata mereka sudah jalan duluan karena tidak tahu lokasi kantor BKSDA Pekanbaru. Alhasil mereka menunggu di tepi jalan lintas Sumatera dan tidak shalat Jumat hehe. Gak usah dibayangkan disepanjang jalan lintas sumatera sebagus dan serindang kebanyakan jalan di pulau Jawa. Di sepanjang jalur lintas ini yang terpampang adalah ruko-ruko bertingkat berjajar tidak beraturan, jarang dijumpai pohon peneduh sebagai jalur hijau, kendaraan yang dijumpai didominasi oleh truk besar pengangkut barang maupun truk tangki pengangkut minyak kelapa sawit. Mobil pribadi kebanyakan berjenis minibus jarang sekali dijumpai jenis sedan maupun citycar yang berukuran kecil (dan unyu katanya).Perjalanan dari kota Pekanbaru membutuhkan waktu sekitar enam jam menuju Duri. Hingga menjelang magrib kami masih berada di kompleks perkantoran PT. Cevron Pasific Indonesia (CPI), mendiskusikan program kerja bersama PT. CPI, dan pihak BKSDA Riau dengan mendengarkan pemaparan dari tim ahli dari Fakulatas Kehutanan UGM. Singgah di salah satu hotel di Pekanbaru karena apabila dilanjutkan perjalanan ke Duri maka tiba terlalu larut.
Keesokan hari perjalanan menuju kota Duri. Lagi-lagi dengan sudut pandang horizontal, kami disuguhkan kembali hamparan tanaman Kelapa Sawit dengan tinggi beragam mulai dari satu meter hingga yang sudah mencapai 8 meter dengan tandan buah siap panen. Miris, melihat hamparan kebun Sawit seluas mata memandang yang dulunya berupa hutan alam. Tak bisa dibayangkan berapa jumlah hewan dan pohon yang direbut habitatnya untuk menanam kelapa sawit yang bersifat rakus karena akan menyedot habis unsur hara dan air di dalam tanah. Bahkan di dalam masa produktifnya masih harus disuplai pupuk kimia. Seluruh tanaman yang tumbuh disekitarnya dianggap sebagai gulma sehingga wajib disiangi atau disemprot dengan herbisida. Seluruh hewan yang hidup di dalam kebun sawit dianggap hama dan wajib dikeluarkan, tak terkecuali hewan yang di dalam UU No. 5 tahun 1990 tergolong sebagai satwa liar yang dilindungi. Selintas kemudian kami memasuki sebuah area yang dulunya adalah rawa dan kini juga telah diubah menjadi kebun kelapa sawit. Hanya membutuhkan waktu beberapa bulan saja air yang menggenang di suatu rawa menjadi kering ketika ditanami kelapa sawit.
Masih menjumpai kendaraan diesel berderet mengantri minyak di SPBU kota Duri. Sebuah kota kecamatan dengan potensi minyak mentah melimpah yang telah dieksploitasi sejak tahun 1970-an hingga sekarang. Didominasi oleh penduduk yang bermata pencaharian sebagai pekerja di perusahaan kontraktor PT. CPI. Kantor kecamatan berada di seberang pulau terpisah dari pulau sumatera. Kota dengan deretan ruko dan penginapan yang terkesan semrawut karena sepertinya tidak ada penataan ruang yang baik.
Beberapa hari awal kami disibukkan dengan perijinan dan pelatihan oleh pihak PT. CPI terkait dengan pengenalan lokasi, prosedur keamanan kerja (safety work), pemaparan program kerja, dan beberapa hal lain terkait kegiatan selama satu bulan di Duri Field. Selama beberapa minggu kami melakukan pengambilan data satwa berupa harimau dan satwa mangsanya serta burung, dan data vegetasi. Total luas kawasan PT. CPI yang akan kami sisir sesuai jalur (transek) penelitian sekitar 100 km2. Area tersebut dibagi menjadi grid-grid kecil dengan luas 1 km2.
APD yang musti dipakai di lapangan, kliatan ribet ya ?
Time to work!! Pertama kali ke lapangan kami sempat merasa ribet dengan segala Alat Pengaman Diri (APD). Helm, sarung tangan, sepatu boot (dengan berat 3 kg), beenet (pelindung lebah), kacamata, masker, topeng, detektor H2S, parang, serta senjata api bagi Polisi Hutan yang mendampingi masing-masing kelompok. Setiap hari masing-masing team akan menyusur kawasan sejauh 5 kilometer untuk pengamatan di Duri Field Area PT. CPI.

To be continued....

Older Posts Home

 

About Me

Investment and Wealth Protection

Chat Me

 Status YM

 

Followers

Total Pageviews

Visitors

Translate This Page

Wisata Hati Business School

 

Templates by Drajat Dwi Hartono | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger